kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   10.000   0,36%
  • USD/IDR 17.717   9,00   0,05%
  • IDX 6.495   -30,59   -0,47%
  • KOMPAS100 847   -2,32   -0,27%
  • LQ45 641   -3,86   -0,60%
  • ISSI 228   -0,07   -0,03%
  • IDX30 358   -2,47   -0,69%
  • IDXHIDIV20 434   -2,79   -0,64%
  • IDX80 97   -0,42   -0,44%
  • IDXV30 120   -0,68   -0,57%
  • IDXQ30 113   -0,75   -0,66%

Jokowi: Kebutuhan listrik disesuaikan pertumbuhan


Jumat, 06 Oktober 2017 / 13:00 WIB


Reporter: Pratama Guitarra | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengembangan pembangunan pembangkit listrik disesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tidak mempermasalahkan apabila target megaproyek ketenagalistrikan 35.000 Megawatt (MW) tidak tercapai.

"Ya itu target (35.000 MW) tapi juga menyesuaikan dengan kebutuhan. Target tersebut setelah dihitung-hitung dengan pertumbuhan ekonomi misalnya kebutuhannya tidak 35 GW tapi 32 GW. Kalau terlalu over juga membebani PLN," ungkapnya usai meresmikan pembangunan PLTU Jawa 7, 9 dan 10, di Cilegon, Banten, Kamis (5/10).

Jokowi bilang, apapun kebutuhan baik rumah tangga, industri, perhotelan, pariwisata baik di provinsi, di daerah itu semuanya itu membutuhkan listrik. Jadi, ia tetap terus kejar ke Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno, Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir agar kecukupan listrik itu betul-betul mencukupi.

"Tapi seperti tadi saya cerita, dulu kalau ke daerah-daerah pasti gubernurnya ngomong kesulitan listrik. Turun lagi ke Kabupaten, Bupatinya juga ngomong. Sekarang saya enggak dengar (kesulitan listrik)," klaimnya.

Tapi, kata Jokowi, saat ini memang kebutuhan listrik tetap masih kurang. Tapi kalau dikejar kira-kira pada tahun 2019 akan kelihatan hasil. "Tapi apapun kebutuhan listrik pasti ada permintaan untuk naik . Jangan sampai terlambat lagi," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×