kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Jokowi: Indonesia harus jadi produsen hasil tani


Kamis, 29 Mei 2014 / 12:25 WIB
ILUSTRASI. Kemendag menetapkan rasio volume ekspor minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dan turunanya menjadi 1:6


Sumber: TribunNews.com | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Calon presiden Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi memaparkan visi dan misinya dihadapan kader Jaringan Pemuda Nahdliyin (JPN), di Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (28/5) malam. Jokowi menegaskan perlunya berorientasi dua hal dalam pembangunan Indonesia ke depan yakni masalah pangan dan energi.

Menurut Jokowi melimpahnya hasil pangan Indonesia seharusnya dimanfaatkan oleh pemerintah dengan memperkuat produksi pertanian di negara agraris Indonesia.
"Sebagai negara agraris kita malah mengimpor hasil pertanian dari negara asing," ujar Jokowi.

Ia mencontohkan produk pertanian Indonesia semacam beras, gandum, singkong, bawang, dan kedelai ternyata masih berharap dari produksi luar negri.
"Seharusnya produk pertanian kita diperkuat dengan membentuk sekolah kejuruan semacam sekolah pertanian,"ujarnya.

Jokowi menyayangkan adanya konversi lahan pertanian menjadi lahan lain. Ia berharap adanya regulasi yang jelas mengenai lahan pertanian tidak lagi dialihfungsikan menjadi lahan perumahan.

Ia menambahkan produk pertanian juga harus mempunyai riset dan berasal dari kontens lokal. Jokowi tidak menginginkan konsumsi beras Indonesia mengharapkan impor dari Vietnam dan Thailand. "Indonesia harus menjadi negara produksi bukan negara konsumsi," ujarnya. (Randa Rinaldi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×