kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

JK: Pilih mantan Ketum sendiri atau partai lain


Selasa, 20 Mei 2014 / 13:23 WIB
ILUSTRASI. Tidak ada katalis penting yang bisa menjadi penggerak rupiah. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/nz


Sumber: TribunNews.com | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Mantan Ketua Umum DPP. Partai Golkar, Jusuf Kalla (JK), didapuk sebagai calon wakil presiden (Cawapres) untuk calon presiden (capres) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Joko Widodo (Jokowi). Namun Partai Golkar sendiri memberikan dukungannya untuk pasangan Prabowo Subianto - Hatta Rajasa.

Namun menurut Jusuf Kalla, pada pemilu presiden masyarakat akan memilih figur, dan bukan memilih partai. "Mana yang lebih etis, memilih mantan ketua umum partai sendiri atau memilih ketua umum partai lain ?" kata JK kepada wartawan di kediamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (20/5).

Soal ancaman sanksi bagi kader Partai Golkar yang menentang keputusan partai dengan tidak mendukung pasangan Prabowo - Hatta, JK menganggap hal itu bukan lah suatu hal yang patut.

Seperti diketahui keputusan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie (Ical) mengharuskan kader partai Golkar harus mendukung pasangan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra dan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional.

Mantan Wakil Presiden RI itu mengakui bahwa pascapendeklarasian dirinya sebagai cawapres Jokowi, ia belum berkomunikasi dengan Ical. Namun ia menganggap hubungannya dengan Ical baik-baik saja. (Nurmulia Rekso Purnomo)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×