kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

JK: Pilih mantan Ketum sendiri atau partai lain


Selasa, 20 Mei 2014 / 13:23 WIB
JK: Pilih mantan Ketum sendiri atau partai lain
ILUSTRASI. Tidak ada katalis penting yang bisa menjadi penggerak rupiah. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/nz


Sumber: TribunNews.com | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Mantan Ketua Umum DPP. Partai Golkar, Jusuf Kalla (JK), didapuk sebagai calon wakil presiden (Cawapres) untuk calon presiden (capres) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Joko Widodo (Jokowi). Namun Partai Golkar sendiri memberikan dukungannya untuk pasangan Prabowo Subianto - Hatta Rajasa.

Namun menurut Jusuf Kalla, pada pemilu presiden masyarakat akan memilih figur, dan bukan memilih partai. "Mana yang lebih etis, memilih mantan ketua umum partai sendiri atau memilih ketua umum partai lain ?" kata JK kepada wartawan di kediamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (20/5).

Soal ancaman sanksi bagi kader Partai Golkar yang menentang keputusan partai dengan tidak mendukung pasangan Prabowo - Hatta, JK menganggap hal itu bukan lah suatu hal yang patut.

Seperti diketahui keputusan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie (Ical) mengharuskan kader partai Golkar harus mendukung pasangan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra dan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional.

Mantan Wakil Presiden RI itu mengakui bahwa pascapendeklarasian dirinya sebagai cawapres Jokowi, ia belum berkomunikasi dengan Ical. Namun ia menganggap hubungannya dengan Ical baik-baik saja. (Nurmulia Rekso Purnomo)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×