kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.531.000   5.000   0,20%
  • USD/IDR 18.153   -6,00   -0,03%
  • IDX 5.097   39,78   0,79%
  • KOMPAS100 657   5,57   0,85%
  • LQ45 518   2,72   0,53%
  • ISSI 170   0,84   0,50%
  • IDX30 291   1,43   0,49%
  • IDXHIDIV20 391   -0,27   -0,07%
  • IDX80 76   0,57   0,76%
  • IDXV30 109   -0,28   -0,25%
  • IDXQ30 97   -0,51   -0,52%

Jelang Akhir Tahun, Inflasi Berisiko Mendekati Batas Atas Sasaran BI, Ini Pemicunya


Senin, 02 November 2026 / 16:12 WIB
Jelang Akhir Tahun, Inflasi Berisiko Mendekati Batas Atas Sasaran BI, Ini Pemicunya
ILUSTRASI. Pedagang memilah bawang merah untuk pembeli (ANTARAFOTO/Adiwinata Solihin)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan inflasi menjelang akhir 2026 masih perlu diwaspadai, meskipun harga emas mulai mengalami penurunan. Pasalnya, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, seperti cabai dan daging ayam ras, masih berpotensi mendorong inflasi, terutama di tengah meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan, penurunan harga emas memang dapat membantu menahan inflasi inti. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk mengimbangi tekanan harga pada kebutuhan sehari-hari.

"Penurunan harga emas membantu menahan inflasi inti, tetapi tidak menghilangkan tekanan pada kebutuhan sehari-hari. Inflasi pangan bergejolak Oktober naik menjadi 5,81% secara tahunan," ujar Faiz kepada Kontan, Senin (2/11/2026).

Baca Juga: BPS Proyeksikan Produksi Beras Kuartal IV-2026 Turun 16,32% akibat El Nino

Menurut Faiz, momentum Nataru berpotensi menambah tekanan inflasi melalui peningkatan permintaan pangan dan mobilitas masyarakat. Kondisi ini terutama perlu diwaspadai apabila pasokan dan distribusi barang belum sepenuhnya pulih.

Dengan demikian, inflasi pada akhir tahun berisiko kembali meningkat dan mendekati batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5%. Adapun inflasi pada Oktober 2026 mencapai 3,23% year on year (yoy).

Meski begitu, besarnya tekanan inflasi akan bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari kondisi panen, kelancaran distribusi, realisasi penyaluran bantuan pangan, hingga kebijakan harga energi.

Faiz mengatakan, pemerintah perlu mengamankan pasokan sejak dini agar peningkatan permintaan musiman selama Nataru tidak berkembang menjadi lonjakan harga yang berkepanjangan.

Lebih lanjut, tekanan inflasi juga berpotensi berlanjut hingga tahun depan. Salah satu faktor yang perlu diwaspadai adalah tekanan biaya produksi, terutama apabila harga energi global masih bertahan tinggi.

Menurut Faiz, terdapat tiga sumber risiko utama yang dapat memengaruhi inflasi pada 2027. Pertama, gangguan cuaca yang berpotensi memengaruhi produksi pangan. Kedua, tingginya harga energi yang meningkatkan biaya produksi dan pengiriman. Ketiga, pelemahan nilai tukar rupiah yang membuat harga bahan baku dan barang impor menjadi lebih mahal.

Ia menjelaskan, apabila harga bahan bakar minyak (BBM) dan listrik tetap ditahan, sebagian tekanan kenaikan harga energi akan lebih dahulu tercermin pada beban fiskal pemerintah dan margin usaha. Sebaliknya, jika terjadi penyesuaian harga energi, dampaknya terhadap inflasi konsumen akan lebih langsung.

Risiko inflasi juga semakin besar apabila kenaikan biaya produksi mulai diteruskan secara luas ke harga makanan jadi, barang manufaktur, dan jasa.

Di sisi lain, penurunan harga emas belum tentu dapat memberikan kontribusi penahan inflasi dalam besaran yang sama secara berulang.

"Karena itu, inflasi tahun depan akan sangat ditentukan oleh pemulihan pasokan pangan, arah harga minyak, stabilitas rupiah, dan kemampuan menjaga ekspektasi inflasi," kata Faiz.

Baca Juga: Efek El Nino, Inflasi Diramal Bertahan di Level 3% Hingga Semester I-2027

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×