kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.531.000   5.000   0,20%
  • USD/IDR 18.173   14,00   0,08%
  • IDX 5.099   41,62   0,82%
  • KOMPAS100 658   6,21   0,95%
  • LQ45 518   2,82   0,55%
  • ISSI 170   1,06   0,62%
  • IDX30 291   1,58   0,54%
  • IDXHIDIV20 391   -0,34   -0,09%
  • IDX80 76   0,62   0,83%
  • IDXV30 109   -0,15   -0,14%
  • IDXQ30 97   -0,52   -0,53%

Efek El Nino, Inflasi Diramal Bertahan di Level 3% Hingga Semester I-2027


Senin, 02 November 2026 / 14:42 WIB
Efek El Nino, Inflasi Diramal Bertahan di Level 3% Hingga Semester I-2027
ILUSTRASI. Pemprov Maluku Utara jaga pasokan pangan (Antara Foto/Andri Saputra)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan inflasi Indonesia diperkirakan masih akan meningkat dan bertahan di atas 3% hingga semester I-2027. Kondisi ini dipengaruhi oleh potensi dampak El Nino terhadap produksi pangan, pelemahan nilai tukar rupiah, serta tingginya harga energi global di tengah ketidakpastian geopolitik.

Kepala Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman memperkirakan, inflasi pada akhir 2026 akan mencapai 3,13%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi pada akhir 2025 yang tercatat sebesar 2,92%.

Menurut Faisal, tekanan inflasi ke depan terutama akan bersumber dari kelompok harga pangan bergejolak (volatile food). Permintaan pangan yang masih kuat, termasuk didorong oleh implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), berpotensi menjaga inflasi pangan tetap tinggi.

Baca Juga: BPS Catat Tiket Pesawat Naik di 24 Provinsi, Tertinggi Kalimantan Selatan Naik 15,73%

Di sisi lain, potensi fenomena El Nino yang lebih kuat juga meningkatkan risiko gangguan produksi pertanian. Kondisi tersebut dapat memperburuk pasokan pangan dan mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas.

"Kami memperkirakan bahwa, tanpa intervensi pemerintah untuk menstabilkan pasokan dan harga pangan, inflasi pangan dapat meningkat sebesar 4,38 poin persentase di bawah skenario El Nino yang kuat," ujar Faisal dalam keterangannya, Senin (2/11/2026).

Ia menjelaskan, dampak kenaikan inflasi pangan diperkirakan mencapai 2,88 poin persentase dalam skenario El Nino moderat dan 1,35 poin persentase dalam skenario El Nino lemah.

Dengan demikian, kenaikan inflasi pangan akibat El Nino berpotensi menyumbang sekitar 0,27 poin persentase hingga 0,88 poin persentase terhadap inflasi utama.

Selain pangan, tekanan inflasi juga berpotensi datang dari kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), terutama energi, bahan bakar, dan transportasi.

Faisal menilai, tingginya harga energi global yang dibarengi pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban pemerintah dalam mempertahankan subsidi energi. Ruang fiskal pemerintah untuk menyerap kenaikan harga energi global pun berpotensi semakin terbatas.

Berdasarkan perhitungannya, kenaikan 10% harga bahan bakar bersubsidi berpotensi menambah inflasi utama sebesar 0,73 poin persentase. Kontribusi tersebut terdiri dari efek langsung atau putaran pertama sebesar 0,39 poin persentase dan efek tidak langsung atau putaran kedua sebesar 0,34 poin persentase.

Sementara itu, inflasi inti juga berpotensi menghadapi tekanan dari pelemahan rupiah. Meskipun daya beli rumah tangga yang masih rapuh diperkirakan membatasi tekanan permintaan, depresiasi rupiah dapat meningkatkan biaya bahan baku dan barang impor sehingga memicu penerusan kenaikan harga dari produsen ke konsumen.

Baca Juga: Inflasi Sulawesi Utara Tembus 8,07% pada Oktober 2026, Cabai Rawit Jadi Biang Kerok

Ketidakpastian geopolitik, sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve, serta gejolak pasar terkait MSCI turut memperkuat sentimen penghindaran risiko. Kondisi ini berpotensi membatasi aliran modal masuk dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Memasuki 2027, Faisal memperkirakan tekanan inflasi masih akan berlanjut, setidaknya hingga semester I-2027. Risiko El Nino, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta ketidakpastian pasar keuangan diperkirakan masih membayangi pergerakan harga domestik.

Namun, inflasi diperkirakan mulai melandai pada semester II-2027 seiring meredanya sejumlah tekanan tersebut. Secara keseluruhan, Bank Permata memproyeksikan inflasi pada akhir 2027 mencapai sekitar 2,94%.

Meski demikian, Faisal mengingatkan bahwa proyeksi tersebut masih dibayangi sejumlah risiko. Apabila ketegangan geopolitik berlangsung lebih lama, harga energi global terus meningkat, dan dampak El Nino lebih kuat dari perkiraan, inflasi berpotensi melampaui batas atas sasaran Bank Indonesia (BI).

Di tengah risiko tersebut, arah kebijakan moneter juga akan menjadi perhatian. Dalam skenario dasarnya, Bank Permata memperkirakan BI masih akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada November 2026 menjadi 6%.

Langkah tersebut terutama didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps menjadi 4,25% pada Desember 2026. Kenaikan suku bunga BI dinilai diperlukan untuk menjaga selisih suku bunga, menopang stabilitas rupiah, sekaligus meredam tekanan inflasi impor.

“Pandangan ini terutama didorong oleh ekspektasi kami akan kenaikan lebih lanjut sebesar 25bps pada Suku Bunga Dana Federal (FFR) menjadi 4,25% pada Desember 2026, yang akan mengharuskan BI untuk mempertahankan perbedaan suku bunga yang memadai untuk mendukung stabilitas Rupiah dan menahan inflasi impor,” tandasnya.

Baca Juga: IHSG Bergejolak, Ekonom InFast Proyeksi Ekonomi Q3 Tumbuh 5,4%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×