kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45691,13   20,36   3.03%
  • EMAS924.000 -0,22%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Januari 2020, APBN defisit Rp 36,1 triliun


Rabu, 19 Februari 2020 / 19:49 WIB
Januari 2020, APBN defisit Rp 36,1 triliun
ILUSTRASI. Menkeu Sri Mulyani

Reporter: Grace Olivia | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mengawali tahun, Kementerian Keuangan mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 per akhir Januari 2020 lalu mengalami defisit sebesar Rp 36,1 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta (KiTa), Rabu (19/2) menjelaskan, total pendapatan negara per Januari 2020 mencapai Rp 103,7 triliun atau turun 4,6% dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy).

Realisasi pendapatan negara ini setara dengan 4,6% dari target pendapatan dalam APBN 2020 yang sebesar Rp 2.233,2 triliun.

Baca Juga: Menkeu: Setiap 1% penurunan ekonomi China berdampak 0,3%-0,6% ke Indonesia

Sejalan, belanja negara  juga mengalami kontraksi  atau turun 9,1% menjadi Rp 139,8 triliun sepanjang Januari 2020. Realisasi belanja tersebut memenuhi 5,5% dari pagu APBN 2020 sebesar Rp 2.540,4 triliun.

Sehingga keseimbangan primer pun mencatat defisit sebesar Rp 13,6 triliun. Defisit keseimbangan primer melampaui 113,2% dari target APBN 2020 yang hanya Rp 12 triliun.

Adapun, pembiayaan anggaran mencapai Rp 68,2 triliun atau mencapai 22,2% dari pagu yang sebesar Rp 307,2 triliun. Pembiayaan anggaran yang bersumber dari pembiayaan utang tersebut juga turun 44,8% secara yoy.

Dengan demikian, defisit APBN per Januari 2020 mencapai Rp 36,1 triliun dengan rasio defisit terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 0,21%. Sementara, target pemerintah tahun ini rasio defisit terhadap PDB hanya sebesar 1,76% atau lebih kecil dari realisasi defisit tahun sebelumnya 2,2% dari PDB.

Sri Mulyani mengatakan, keyakinan perbaikan ekonomi di tahun 2020 tertekan oleh berbagai sentimen. Sumber ketidakpastian dan risiko penurunan (downside risk) terbesar saat ini adalah wabah virus corona yang berpusat di China.

"Kita harus waspadai ini karena akan merembes ke perekonomian kita. Perlu direspons dan ditangani dalam jangka pendek ini," tutur bendahara negara itu.

Baca Juga: Pemerintah kaji cukai ke minuman berpemanis, berikut rincian usulannya




TERBARU

Close [X]
×