kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.944   -29,00   -0,16%
  • IDX 5.999   115,16   1,96%
  • KOMPAS100 778   14,20   1,86%
  • LQ45 588   9,58   1,66%
  • ISSI 208   4,74   2,33%
  • IDX30 333   5,83   1,78%
  • IDXHIDIV20 409   6,49   1,62%
  • IDX80 88   1,57   1,82%
  • IDXV30 111   2,39   2,20%
  • IDXQ30 107   1,91   1,82%

Ini syarat indonesia bisa jadi negara maju


Selasa, 22 Mei 2018 / 18:25 WIB
ILUSTRASI. MenPPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (tengah)


Reporter: Arsy Ani Sucianingsih | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia akan menjadi negara maju apabila memiliki konsumsi listrik per kapita yang jauh lebih tinggi dari yang ada saat ini ditargetkan sebesar 905 kilo Watt hour (kWh).

Kepala Badan Perencanaan Nasional (Bapenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan,  besarnya konsumsi listrik merupakan salah satu syarat negara Indonesia menjadi negara maju. Artinya, kata Bambang kebutuhan listrik sebenarnya masih lebih tinggi dari yang ada saat ini.

Namun, jika Indonesia ingin terus bergantung pada batubara akan sulit lantaran pasokan batubara lama-lama akan menipis bahkan habis. Di sisi lain, hal tersebut menjadi dilema, karena teknologi batubara yang mumpuni membuat fosil fuel tersebut jauh lebih murah di bandingkan energi baru terbarukan (EBT).

“Menurut saya namanya juga batubara suatu saat habis, artinya yang dibilang murah itu sementara saja, murah itu dalam artian selama batubara masih tersedia dalam jumlah banyak,” ujar Bambang seusai Focus Group discussion (FGD) di Gedung Bapenas, Selasa (22/5).

Menurutnya, saat ini siapapun merasa batubara akan menyelesaikan segalanya, namun dalam jangka pendek saja. Hal itu merupakan salah satu strategi para penentu kebijakan pada era pemerintahaan saat ini.

“Karena memang mereka berfikirnya selama dia menjabat, selama dirut pinginnya bottom line bagus, sebagai menteri energi target elektrifikasi tercapai. Memang kondisi politik kita yang lima tahunan ini membuat semua orang berfikirnya lima tahun, bukan berfikir jauh,” tambah Bambang.

Bambang menjelaskan, pemerintah perlu memperhitungkan kapan batubara akan habis, tentunya dalam perhitungan angka, biaya dan umur dari batubara tersebut.

“Ini mungkin yang kita coba pikirkan bagaimana kita membandingkan harga EBT dengan harga fosil fuel tidak dalam konteks yang saat ini yang ini berapa yang itu berapa per kilo watt our,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×