Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Adi Wikanto
Jakarta. Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih mengatakan, kepemilikan asing dalam SBN pemerintah meningkat karena likuiditas global banyak.
Sementara itu, keterbatasan likuiditas di dalam negeri menjadi peluang investor asing masuk.
Menurut Lana, bisa saja pemerintah memaksakan perbesaran porsi kepemilikan domestik dalam SBN pemerintah, tetapi jangan sampai ada perebutan dana antara bank dan pemerintah mengingat masih terbatasnya likuiditas di dalam negeri.
Lana melihat, ada cara efektif menurunkan kepemilikan asing dalam SBN pemerintah, yakni dengan menahan dana asing melalui obligasi non perdagangan.
"Misalnya, asing boleh beli dengan tenor 30 tahun tetapi di-hold tiga hingga lima tahun. Jadi secara tidak langsung minatnya jadi berkurang," tambah Lana.
Namun demikian, cara tersebut tetap berdampak, yakni berkurangnya devisa dari investasi portofolio.
Akan tetapi Lana melihat cara ini masih bisa diatasi dengan penambahan uang beredar oleh Bank Indonesia.
"Semua kebijakan pasti ada impilkasinya, tinggal diperhitungkan cost mana yang lebih rendah," tutupnya.
Kemkeu mencatat, porsi asing dalam kepemilikan obligasi pemerintah masih tergolong besar, yakni hingga 39%.
Padahal, pada tahun lalu pemerintah menyebut porsi asing masih di kisaran 37%-38%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News