kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.765   12,00   0,07%
  • IDX 6.600   74,46   1,14%
  • KOMPAS100 864   11,98   1,41%
  • LQ45 654   10,59   1,64%
  • ISSI 230   0,99   0,43%
  • IDX30 366   6,01   1,67%
  • IDXHIDIV20 452   8,85   2,00%
  • IDX80 98   1,48   1,52%
  • IDXV30 125   1,21   0,98%
  • IDXQ30 117   2,14   1,86%

Ini risiko yang akan dihadapi Indonesia saat terjadi pengetatan moneter di AS


Selasa, 01 Juni 2021 / 19:12 WIB
ILUSTRASI. Kawasan perkantoran di Jakarta, Selasa (19/1). /pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/19/01/2021.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Tendi Mahadi

Untuk itu, guna makin mengecilkan risiko secara keseluruhan, Indonesia harus cepat mengejar dan menggenjot pemulihan ekonomi. Pemerintah dan BI perlu menghadapi risiko dengan bahu membahu mempercepat proses pemulihan ekonomi dengan bauran kebijakan dan progres vaksinasi. 

Semakin cepat Indonesia pulih, semakin menarik juga Indonesia untuk menjadi tujuan investasi. Selain itu, dengan sendirinya penerimaan negara juga bisa meningkat sehingga kebutuhan pembiayaan fiskal berkurang. 

Baca Juga: LPEM FEB UI prediksi inflasi Mei 2021 bisa mencapai 0,3% mom

Kabar baiknya, bila mengikuti pernyataan The Fed, sekarang bank sentral AS masih akan cenderung dovish terkait kebijakannya sehingga kemungkinan BI juga masih akan menjaga suku bunga rendah di tahun ini. 

“Kemungkinan BI akan menaikkan suku bunga di akhir tahun 2022 atau awal tahun 2023. Masih bisa berubah sesuai perkembangan kondisi dan statement The Fed di Juni ini. Biasanya di setiap akhir kuartal The Fed akan keluarkan proyeksi makronya. Jika berubah menjadi lebih optimis terkait ekonomi AS, maka bisa lebih cepat,” tandasnya. 

Selanjutnya: Pemerintah ajukan 2 skema pengampunan pajak, Kadin minta tarifnya sama-sama 10%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×