kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45991,60   -2,56   -0.26%
  • EMAS1.135.000 -0,09%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Ini Proyeksi BI Terkait Indikator Ekonomi Makro di Tahun 2024


Selasa, 14 November 2023 / 05:55 WIB
Ini Proyeksi BI Terkait Indikator Ekonomi Makro di Tahun 2024
ILUSTRASI. Bank Indonesia (BI) melihat peluang sejumlah indikator ekonomi makro pada tahun 2024.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mempertimbangkan kondisi ekonomi global dan domestik terkini, Bank Indonesia (BI) melihat peluang sejumlah indikator ekonomi makro dapat melemah pada tahun 2024.

Dalam Rencana Anggaran Tahunan Bank Indonesia (RATBI) 2024, Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berada di kisaran 5,00% pada tahun 2024.

Ini lebih lambat bila dibandingkan dengan prognosa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2023 dalam ATBI 2023 yang sebesar 5,01%.

Meski demikian, Perry tetap optimistis ada sejumlah hal yang mampu mendorong kekuatan pertumbuhan ekonomi tahun depan.

"Terutama karena kenaikan gaji aparatur sipil negara (ASN), penyelenggaraan pemilihan umum (Pemilu), dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN)," terang Perry di hadapan Komisi XI DPR RI, Senin (13/11).

Kemudian tingkat inflasi pada tahun 2024 diperkirakan sebesar 3,20% yoy. Ini juga lebih tinggi bila dibandingkan dengan prognosa inflasi dalam ATBI 2023 yang sebesar 2,84%.

Baca Juga: BI Proyeksi Suku Bunga The Fed Baru Akan Turun di Semester II-2024

Perry bilang, peningkatan inflasi pada tahun depan sejalan dengan permintaan yang masih baik dan dampak dari nilai tukar yang lebih lemah.

Sedangkan nilai tukar rupiah pada RATBI 2024 ditetapkan sebesar Rp 15.510 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah dari prognosa dalam ATBI 2023 yang sebesar Rp 15.280 per dolar AS.

Rata-rata nilai tukar rupiah pada tahun 2024 akan dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global, yang kemudian memengaruhi aliran modal ke negara berkembang.

Sehingga, kondisi tersebut akan memberikan tekanan pada mata uang dunia, termasuk Indonesia.

Dengan berbagai kemungkinan tersebut, Perry meyakinkan bahwa otoritas akan memperkuat langkah bauran kebijakan pada tahun depan.

Salah satunya, dengan koordinasi dengan pemerintah atau otoritas fiskal, dalam pengendalian inflasi, juga untuk mendukung kebijakan dalam menarik devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) parkir lebih lama di dalam negeri.

Selain itu, BI juga akan berupaya dalam menjaga sistem keuangan, dengan bergandeng tangan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×