Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memastikan akan segera menggelontorkan program insentif untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah inflasi tahunan pada bulan Oktober yang tercatat 3,23%.
Airlangga mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai program bantalan sosial mulai dari insentif belanja pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru), hingga bantuan sosial sebesar Rp 30 triliun pada akhir semester II tahun ini.
"Jadi kita gelontorkan bantuan agar daya tahan bisa terjaga," kata Airlangga di Istana Kepresidenan, Senin (2/11/2026).
Baca Juga: BNPB Waspadai Karhutla Saat Musim Hujan, Ini Wilayah yang Masih Terbakar
Ailrangga menilai salah satu program bantuan pangan beras sebesar 30 kg setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) akan menekan inflasi di tahun ini.
Pemerintah juga akan menjaga angka inflasi sebesar 2,5% plus minus 1% sesuai dengan target sasaran inflasi yang ditetapkan oleh pemerintah bersama dengan Bank Indonesia (BI).
"Jad pemerintah tidak khawatir karena yang naik juga terkait dengan penghasilan dari petani. Jadi kita biarkan inflasi masih dalam range dengan 2,5% plus minus 1%.
Selain, program insentif masif yang diberikan kepada masyarakat, pemerintah juga berupaya mendongkrak kinerja sektor ekspor-impor.
Hanya saja, Airlangga tidak menjelaskan detil komoditas apa saja yang akan di dorong untuk menjaga inflasi dalam negeri.
Lebih detil, Airlangga menyebut kenaikan inflasi ini disebabkan oleh volatile food, inflasi bidang transportasi khususnya di sektor penerbangan. "Makanya kenaikan itu nanti akan kita kompensasi dengan diskon Nataru," tegas Airlangga.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatatkan inflasi sebesar 0,22% month to month (mtm) pada Oktober 2026, atau turun dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,30% mtm.
Sementara itu, secara tahunan inflasi tercatat sebesar 3,23% year on year (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 3,28% yoy. Namun inflasi secara tahun kalender atau year to date (ytd) mencapai 2,40%, meningkat dari bulan sebelumnya yang mencapai 2,17%.
Baca Juga: BPS: Luas Panen Menyusut, Produksi Jagung Diprediksi Turun 3,55% di Kuartal IV-2026
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan, pada periode tersebut terjadi kenaikan IHK dari 112,31 pada September 2026 menjadi 112,56 pada Oktober 2026.
"Kelompok pengeluaran pendorong inflasi bulanan terbesar pada makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi 0,51% mtm,” tutur Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/11/2026).
Adapun kelompok makanan, minuman dan tembakau ini memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,15% mtm.
Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah cabai merah dengan andil inflasi 0,13% mtm, cabai rawit dengan andil inflasi 0,05% mtm, serta tomat dengan andil inflasi 0,04% mtm, menyusul sawi hijau atau cipang, serta sawi putih atau pecai dengan andil inflasi masing-masing 0,01% mtm.
Lebih lanjut, komoditas lainnya yang juga memberikan andil inflasi dominan utamanya adalah tarif angkutan udara dengan andil inflasi sebesar 0,01% mtm.
Pada Oktober 2026, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,06% mtm, dengan andil deflasi 0,01% mtm.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














