kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.060   58,00   0,32%
  • IDX 5.328   49,47   0,94%
  • KOMPAS100 686   6,42   0,94%
  • LQ45 536   5,41   1,02%
  • ISSI 181   1,90   1,06%
  • IDX30 301   3,09   1,04%
  • IDXHIDIV20 393   4,01   1,03%
  • IDX80 79   0,89   1,14%
  • IDXV30 109   1,50   1,39%
  • IDXQ30 99   1,11   1,13%

Inflasi pada Semester I 2023 Diproyeksi Masih Tinggi, Ini Pemicunya


Kamis, 01 Desember 2022 / 18:48 WIB
ILUSTRASI. Aktivitas jual beli di pasar tradisional, Bekasi, Jawa Barat, Senin (29/10). Inflasi pada Semester I 2023 Diproyeksi Masih Tinggi, Ini Pemicunya.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

“Angka kecukupan suplai beras harus dipastikan benar. Kalau perlu impor, ya sudah impor saja. Ini untuk menjaga stabilitas harga, terlebih ini makanan pokok Indonesia,” tutur David. 

BI juga diperkirakan terus menyingsingkan lengan. BI hadir dengan menaikkan suku bunga acuan untuk menjangkar ekspektasi inflasi agar tak bergerak liar juga untuk menjaga pergerakan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. 

David mengingatkan, nilai tukar rupiah juga perlu dijaga. Pasalnya, bila rupiah melemah dalam, akan ada kenaikan imported inflation yang juga menyumbang kenaikan inflasi. 

Baca Juga: Begini Strategi Pemerintah untuk Mencapai Target Pertumbuhan Ekonomi Tahun Depan

Terlepas upaya baik BI maupun pemerintah, David berharap tidak ada kejutan dari dunia internasional yang bisa memengaruhi tingkat harga di dalam negeri. 

“Jangan sampai ada kebijakan maupun peristiwa yang mengejutkan lagi dari sisi global. Jadi, tidak ada harga minyak internasional naik tinggi lagi, maupun harga pangan akibat disrupsi rantai pasok. Mudah-mudahan ketegangan mereda di tahun depan,” tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×