kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Inflasi pada Semester I 2023 Diproyeksi Masih Tinggi, Ini Pemicunya


Kamis, 01 Desember 2022 / 18:48 WIB
ILUSTRASI. Aktivitas jual beli di pasar tradisional, Bekasi, Jawa Barat, Senin (29/10). Inflasi pada Semester I 2023 Diproyeksi Masih Tinggi, Ini Pemicunya.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

“Angka kecukupan suplai beras harus dipastikan benar. Kalau perlu impor, ya sudah impor saja. Ini untuk menjaga stabilitas harga, terlebih ini makanan pokok Indonesia,” tutur David. 

BI juga diperkirakan terus menyingsingkan lengan. BI hadir dengan menaikkan suku bunga acuan untuk menjangkar ekspektasi inflasi agar tak bergerak liar juga untuk menjaga pergerakan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. 

David mengingatkan, nilai tukar rupiah juga perlu dijaga. Pasalnya, bila rupiah melemah dalam, akan ada kenaikan imported inflation yang juga menyumbang kenaikan inflasi. 

Baca Juga: Begini Strategi Pemerintah untuk Mencapai Target Pertumbuhan Ekonomi Tahun Depan

Terlepas upaya baik BI maupun pemerintah, David berharap tidak ada kejutan dari dunia internasional yang bisa memengaruhi tingkat harga di dalam negeri. 

“Jangan sampai ada kebijakan maupun peristiwa yang mengejutkan lagi dari sisi global. Jadi, tidak ada harga minyak internasional naik tinggi lagi, maupun harga pangan akibat disrupsi rantai pasok. Mudah-mudahan ketegangan mereda di tahun depan,” tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×