kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 16.910   28,00   0,17%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Inflasi pada Semester I 2023 Diproyeksi Masih Tinggi, Ini Pemicunya


Kamis, 01 Desember 2022 / 18:48 WIB
Inflasi pada Semester I 2023 Diproyeksi Masih Tinggi, Ini Pemicunya
ILUSTRASI. Aktivitas jual beli di pasar tradisional, Bekasi, Jawa Barat, Senin (29/10). Inflasi pada Semester I 2023 Diproyeksi Masih Tinggi, Ini Pemicunya.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

“Angka kecukupan suplai beras harus dipastikan benar. Kalau perlu impor, ya sudah impor saja. Ini untuk menjaga stabilitas harga, terlebih ini makanan pokok Indonesia,” tutur David. 

BI juga diperkirakan terus menyingsingkan lengan. BI hadir dengan menaikkan suku bunga acuan untuk menjangkar ekspektasi inflasi agar tak bergerak liar juga untuk menjaga pergerakan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. 

David mengingatkan, nilai tukar rupiah juga perlu dijaga. Pasalnya, bila rupiah melemah dalam, akan ada kenaikan imported inflation yang juga menyumbang kenaikan inflasi. 

Baca Juga: Begini Strategi Pemerintah untuk Mencapai Target Pertumbuhan Ekonomi Tahun Depan

Terlepas upaya baik BI maupun pemerintah, David berharap tidak ada kejutan dari dunia internasional yang bisa memengaruhi tingkat harga di dalam negeri. 

“Jangan sampai ada kebijakan maupun peristiwa yang mengejutkan lagi dari sisi global. Jadi, tidak ada harga minyak internasional naik tinggi lagi, maupun harga pangan akibat disrupsi rantai pasok. Mudah-mudahan ketegangan mereda di tahun depan,” tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×