kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Inflasi daerah perlu diantisipasi


Senin, 21 April 2014 / 10:38 WIB
ILUSTRASI. FILE PHOTO: A man walks past Mitsubishi UFJ Financial Group and MUFG Bank sign at their headquarters in Tokyo, Japan, April 3, 2018. REUTERS/Toru Hanai/File Photo


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Daerah memegang peranan penting dalam pengendalian inflasi nasional secara keseluruhan. Maka dari itu, faktor penyebab inflasi daerah perlu diantisipasi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, inflasi daerah umumnya tidak berkaitan secara langsung dengan ketersediaan produksi. Produksi mencukupi karena dapat dipenuhi dari pasokan dalam negeri ataupun impor.

Menurut Hatta, inflasi daerah sering terjadi akibat masalah teknis. "Kapal terlambat datang," ujar Hatta dalam penandatanganan MoU Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Gedung Bank Indonesia Jakarta, Senin (21/4).

Hal-hal teknis inilah yang kemudian menimbulkan inflasi pada daerah dan perlu diperbaiki. Dengan adanya kerja sama antara Kemenko, Bank Indonesia (BI), dan Kementerian Dalam Negeri dalam TPID, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas daerah dalam perekonomian dan pengendalian inflasi.

Tim ini penting karena secara dini dapat melakukan upaya untuk secepat mungkin melakukan koreksi ataupun memperlancar distribusi apabila ada gangguan. Adapun pada tahun ini pemerintah menargetkan inflasi berada pada kisaran 4,5% plus minus satu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×