kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

Industri Parfum Lokal Mendunia, Aceh Gandeng Grasse Prancis untuk Perkuat Kerjasama


Selasa, 23 Juni 2026 / 16:14 WIB
Industri Parfum Lokal Mendunia, Aceh Gandeng Grasse Prancis untuk Perkuat Kerjasama
ILUSTRASI. Industri Parfum Lokal Mendunia, Aceh Gandeng Grasse Prancis untuk Perkuat Kerjasama (Dok/KBRI)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komoditas lokal terus dilakukan Pemerintah. Kali ini pemerintah daerah Kota Banda Aceh memperluas pengembangan industri parfum yang dinilai memiliki potensi besar menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan pasar ekspor.

Untuk mempercepat langkah tersebut, Banda Aceh menggandeng Kota Grasse, Prancis, yang dikenal sebagai pusat industri parfum dunia.

Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara Pemerintah Kota Banda Aceh dan Pemerintah Kota Grasse pada 17 Juni 2026. Kemitraan ini menjadi bagian dari strategi memperkuat posisi Banda Aceh sebagai Kota Parfum Indonesia sekaligus mengembangkan industri parfum lokal berbasis bahan baku unggulan Aceh.

Baca Juga: BPKH Ungkap Pendaftar Haji Lampaui Target, Tembus 118,61% hingga Mei 2026

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan kerja sama tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengembangan parfum, tetapi juga menjadi upaya membangun kekuatan ekonomi baru berbasis potensi daerah.

“Banda Aceh dan Grasse dipertemukan oleh parfum. Namun lebih dari itu, hari ini kita membangun jembatan kolaborasi antara dua kota yang memiliki semangat yang sama, yaitu mengembangkan potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Illiza dikutip dalam keterangan resminya, Selasa (23/6/2026).

Menurut Illiza, Aceh memiliki modal besar untuk mengembangkan industri parfum nasional melalui komoditas nilam dan berbagai tanaman aromatik lainnya yang selama ini menjadi bahan baku industri atsiri dunia.

Melalui kerja sama dengan Grasse, Banda Aceh berharap dapat meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut melalui pengolahan produk jadi yang memiliki daya saing lebih tinggi.

Grasse sendiri telah lama dikenal sebagai pusat industri parfum global dengan ekosistem yang mencakup pendidikan, riset, inovasi, produksi hingga pemasaran internasional.

Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi referensi penting bagi Banda Aceh dalam membangun rantai industri parfum yang lebih terintegrasi.

Wali Kota Grasse, Jérôme Viaud, mengatakan kedua kota memiliki visi yang sama dalam mengembangkan sumber daya lokal menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

“Meskipun dipisahkan oleh ribuan kilometer, Grasse dan Banda Aceh memiliki visi yang sama dalam mengembangkan sumber daya lokal dan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. LoI ini merupakan titik awal dari kemitraan yang dibangun atas dasar pertukaran, kepercayaan, dan berbagai pengalaman,” ujar Viaud.

Baca Juga: Prabowo Akui Penyelundupan Tambang Masih Ada, Negara Rugi Ratusan Miliar Per Bulan

Melalui kerja sama tersebut, kedua kota akan fokus pada pengembangan sumber daya manusia di sektor parfum dan industri atsiri, penguatan ekonomi kreatif berbasis bahan baku lokal, pengembangan pariwisata berbasis wewangian, serta pertukaran teknologi dan pengetahuan terkait pengolahan bahan aromatik.

Selain meningkatkan daya saing industri parfum nasional, kerja sama ini diharapkan dapat memperluas peluang usaha bagi UMKM, mendorong investasi, dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor ekonomi kreatif.

Konsul Jenderal Republik Indonesia di Marseille, Dian Kusumaningsih, menilai kemitraan tersebut menjadi contoh nyata bagaimana kerja sama antardaerah lintas negara dapat membuka peluang ekonomi yang lebih luas.

Sejak meluncurkan program "Banda Aceh Kota Parfum Indonesia" pada 2025, pemerintah daerah aktif membangun kolaborasi dengan pelaku UMKM, perguruan tinggi, kementerian dan lembaga, serta mitra internasional.

Melalui kerja sama dengan Grasse, Banda Aceh berharap industri parfum lokal tidak hanya menjadi penggerak ekonomi daerah dan penciptaan lapangan kerja, tetapi juga mampu menembus pasar global dan meningkatkan nilai ekspor produk berbasis komoditas unggulan Aceh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×