kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45749,52   23,69   3.26%
  • EMAS920.000 0,66%
  • RD.SAHAM 1.15%
  • RD.CAMPURAN 0.62%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.32%

Indonesia-Jepang sepakat dorong LCS, ekonom BCA: Dari sisi praktik susah dilakukan


Jumat, 06 Desember 2019 / 21:36 WIB
Indonesia-Jepang sepakat dorong LCS, ekonom BCA: Dari sisi praktik susah dilakukan
ILUSTRASI. David Sumual. Foto: KONTAN/Surtan Siahaan

Reporter: Bidara Pink | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jepang dan Indonesia sepakat dalam bekerjasama untuk menggunakan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral dan investasi langsung atau local currency settlement (LCS).

Menteri Keuangan Jepang Taro Aso dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pun menandatangani nota kesepahaman terkait ini pada Kamis (5/12) di Tokyo. Kerjasama ini bukanlah yang pertama, sebelumnya, Indonesia juga sudah bekerja sama dengan Malaysia (BNM) dan Thailand (BoT).

Baca Juga: Satgas Waspada Investasi menegaskan bisnis perkebunan berisiko tinggi

Ekonom BCA David Sumual melihat keputusan ini sebagai hal yang menguntungkan bagi kondisi makroekonomi Indonesia. Menurutnya, hal ini berarti bisa mendiversifikasi permintaan, yaitu bukan hanya dari satu mata uang, tetapi bisa beragam.

Namun, David melihat bahwa dari sisi praktiknya, ini merupakan sesuatu yang masih susah dilakukan, apalagi bagi para pengusaha. Bahkan, dengan adanya perjanjian dengan Malaysia dan Thailand, transaksi perdagangan yang menggunakan fasilitas ini juga masih kecil persentasenya. Oleh karena itu, perlu adanya penjelasan atau sosialisasi lebih lanjut tentang manfaat dari kerjasama ini.

"Pengusaha ini sudah terbiasa dengan dolar Amerika Serikat (AS). Jadi kita pun tidak bisa memaksakan karena ini kemauan dari masing-masing pihak," kata David kepada Kontan.co.id, Jumat (6/12).

Baca Juga: Ekonom ini menilai penurunan cadev tidak berpengaruh pada daya topang terhadap rupiah

Selain sudah terbiasa menggunakan dolar AS, pengusaha juga biasanya menimbang tentang stabilitas mata uang dari negara yang bekerjasama. Jadi, pengusaha tentunya masih akan menimbang hal ini, karena perlu memperhitungkan proyeksi pendapatan yang akan diperoleh dari transaksi yang akan dilakukan.

Dari sisi investasi pun, biasanya investor juga cenderung melihat variasi instrumen dan likuiditas. "Jadi kalau misal mereka butuh dan mereka melakukan investasi, mana sih yang lebih mudah ditarik? Juga instrumen kan lebih beragam kalau di dolar AS," jelas David.

Untuk selanjutnya, agar perjanjian ini bisa bermanfaat, David mengimbau agar Indonesia dan negara yang bekerjasama secara bilateral terkait LCS ini bisa berkomitmen untuk mendorong masing-masing pengusahanya untuk berkomitmen dalam menggunakan mata uang mitra dagang.

Baca Juga: Ekonom BCA: Penurunan cadev di November bukan sesuatu yang mengkhawatirkan

Meski begitu, David merasa pesimis bahwa hal ini akan mudah diimplementasikan. "Ya karena memang masih sangat-sangat sulit, dari kebiasaan, confidence, dan juga stabilitas," tandasnya.

Sebagai tambahan informasi, LCS frameworkd adalah penyelesaian transaksi perdagangan antara dua negara yang dilakukan dalam mata uang masing-masing negara di mana setelmen transaksinya dilakukan di dalam yurisdiksi wilayah negara masing-masing.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×