Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.063
  • SUN95,65 0,01%
  • EMAS677.000 -0,44%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Indonesia berpotensi kehilangan surplus perdagangan dengan Pakistan

Senin, 11 Februari 2019 / 16:11 WIB

Indonesia berpotensi kehilangan surplus perdagangan dengan Pakistan
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan DPR menunda ratifikasi protokol perubahan Perjanjian Perdagangan Preferensial Indonesia Pakistan (IP-PTA) dinilai akan merugikan ekspor Indonesia. Indonesia berpotensi kehilangan surplus perdagangan dengan Pakistan. 

Kementerian Perdagangan (Kemdag) mengingatkan hal tersebut kepada DPR untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka menunda ratifikasi perjanjian dagang tersebut. 


"Potensi kerugian jika tidak meratifikasi, Indonesia berpotensi kehilangan surplus neraca perdagangan dengan Pakistan," ujar Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita saat rapat dengan Komisi VI DPR, Senin (11/2).

Enggar mengatakan, surplus perdagangan Indonesia ke Pakistan cukup signifikan. Pada tahun 2017 Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar US$ 2,15 miliar.

Selain itu, Pakistan pun memiliki potensi perluasan akses pasar Indonesia ke Asia Selatan dan Asia Tengah. Perjanjian dagang antara Indonesia dengan Pakistan juga menjaga produk minyak sawit Indonesia.

Pesaing Indonesia dalam ekspor minyak sawit yaitu Malaysia telah membuat perjanjian kerja sama ekonomi komperhensif (CEPA) dengan Pakistan.

Saat ini minyak sawit Indonesia dengan Malaysia masih mendapatkan tarif preferensi yang sama sebesar 6,42%. Namun gagalnya ratifikasi dapat mengubah kesepakatan tersebut.

Salah satu yang menunda ratifikasi tersebut adalah penghapusan bea masuk etanol dari Pakistan. Penghapusan tersebut dinilai akan meningkatkan peredaran minuman beralkohol (Minol) serta membunuh industri dalam negeri.

Enggar memastikan penghapusan bea masuk etanol tidak akan membuat etanol bebas masuk. "Pengaturannya dengan beberapa syarat, kita masih berlakukan persyaratan seperti rekomendasi dan impor cukai alkohol tetap 150%," terang Enggar.

Selain itu, Enggar bilang impor etanol tersebut untuk kebutuhan industri sabun, kosmetik, dan obat. Produksi etanol Indonesia pun belum mencukupi kebutuhan produksi sehingga memerlukan impor.

Reporter: Abdul Basith
Editor: Noverius Laoli

Video Pilihan

TERBARU
Terpopuler
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0010 || diagnostic_api_kanan = 0.0902 || diagnostic_web = 0.4149

Close [X]
×