kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Ikut biayai BSF, pemerintah bantah BUMN ikut menjaga kestabilan fiskal


Senin, 31 Januari 2011 / 15:32 WIB


Reporter: Irma Yani | Editor: Edy Can

JAKARTA. Pemerintah berharap perusahan-perusahaan plat merah turut membeli surat utang pemerintah bila dana asing tiba-tiba keluar (sudden reversal). Namun, Menteri BUMN Mustafa Abubakar berharap, keikutsertaan BUMN ini jangan diartikan sebagai tugas menjaga fiskal.

Pasalnya, Mustafa beralasan, peran BUMN dalam menjaga fiskal sangat kecil. "Kami hanya suplemen kecil saja berperan di situ. Tapi itu sudah komit dengan Kementerian Keuangan, jadi kami berjaga-jaga saja," katanya, Senin (31/1).

Asal tahu saja, pemerintah telah meminta BUMN untuk membeli surat utang negara lewat Bond Stabilization Funds. Langkah ini untuk meredam gejolak perekonomian akibat keluarnya dana-dana asing. Namun, Mustafa sendiri belum menentukan berapa biaya yang harus dipersiapkan BUMN dalam pembentukan BSF itu.

Namun, dia bilang, jika pemerintah turut andil sekitar 10% saja, itu sudah terbilang efektif. "Dana asing sekitar Rp 400 triliun dalam surat berharga negara (SBN) dan lain-lain. Kalau 10% saja dari itu pemerintah, menurut para pakar itu sudah sangat baik dan sudah efektif," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×