Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah terus mempercepat program hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat kinerja ekspor Indonesia. Hingga 2040, pemerintah menargetkan investasi hilirisasi mencapai US$ 618 miliar untuk 28 komoditas yang tersebar di delapan sektor.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, investasi tersebut diharapkan dapat mendorong ekspor Indonesia hingga US$ 857 miliar. Selain itu, hilirisasi ditargetkan menghasilkan nilai tambah ekonomi sebesar US$ 235,9 miliar.
"Investasi yang dibutuhkan untuk 28 komoditas itu adalah US$ 618 billion. Harapannya bisa meningkatkan ekspor menjadi US$ 857 miliar, dengan nilai tambah US$ 235,9 billion," kata Airlangga dalam forum diskusi BIG Downstream Insights 2026 di Graha CIMB Niaga Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026).
Airlangga menyebut, nilai ekspor Indonesia saat ini telah mendekati US$ 500 miliar. Dengan tambahan ekspor yang berasal dari pengembangan hilirisasi, kinerja ekspor nasional dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar.
Baca Juga: Masuk Aset Migas AS, Danantara Gelontorkan Investasi Hingga US$ 250 Juta
"Sebetulnya kalau hilirisasi ini bertambah, maka ekspor kita bisa double dari angka tersebut," ujar Airlangga.
Menurut Airlangga, peningkatan nilai tambah sumber daya alam (SDA) menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan industri dan perekonomian Indonesia ke depan.
Pemerintah pun mendorong agar hilirisasi tidak hanya berfokus pada komoditas mineral dan batubara atau sektor non-renewable. Pengembangan hilirisasi juga diarahkan pada sektor berbasis sumber daya alam terbarukan (renewable), seperti kehutanan, pertanian, perkebunan, dan kelautan.
Airlangga mencontohkan komoditas kelapa sawit yang saat ini telah menghasilkan lebih dari 200 produk turunan. Selain itu, proses hilirisasi komoditas karet juga terus dikembangkan hingga menghasilkan produk turunan berupa ban.
Sektor pertanian juga dinilai memiliki potensi besar untuk menghasilkan berbagai produk, mulai dari pangan, pakan, hingga bahan bakar atau food, feed and fuel.
Sementara itu, dari sektor mineral, nikel menjadi salah satu contoh keberhasilan peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi. Airlangga menyebut ekspor nikel Indonesia pada tahun lalu telah mencapai sekitar US$ 34 miliar.
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan dengan 2016 ketika ekspor nikel Indonesia hanya mencapai US$ 1,3 miliar.
"Jadi, ini sudah mengalami kenaikan hampir 30 kali," katanya.
Selain nikel, pemerintah juga terus mengembangkan hilirisasi komoditas kelapa. Ekspor produk kelapa disebut telah tumbuh hampir 50% menjadi sekitar US$ 2,39 miliar pada 2025.
Baca Juga: Menko Airlangga Tegaskan Batas Maksimum Waktu Kerja Tetap 40 Jam Per Minggu
Airlangga menegaskan, hilirisasi tidak dapat disamakan dengan industrialisasi secara keseluruhan. Menurutnya, hilirisasi merupakan salah satu bagian dari pengembangan industri sehingga pemerintah tetap perlu memperkuat sektor manufaktur lainnya.
Beberapa sektor yang perlu terus didorong antara lain industri otomotif, tekstil dan produk tekstil, fast moving consumer goods (FMCG), serta berbagai sektor strategis lainnya.
Penguatan sektor industri tersebut diperlukan untuk meningkatkan kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Pemerintah menargetkan kontribusi sektor industri terhadap PDB dapat mencapai lebih dari 20%.
Di sisi lain, realisasi investasi hilirisasi pada semester I 2026 telah mencapai sekitar Rp 300 triliun. Angka tersebut tumbuh 6,9% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Airlangga menambahkan, pengembangan hilirisasi juga diharapkan memberikan dampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja. Pemerintah menargetkan pengembangan hilirisasi terhadap 28 komoditas tersebut dapat menyerap sekitar 3 juta tenaga kerja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














