kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.612.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.983   12,00   0,07%
  • IDX 6.196   -118,88   -1,88%
  • KOMPAS100 811   -18,90   -2,28%
  • LQ45 615   -12,33   -1,97%
  • ISSI 214   -4,08   -1,87%
  • IDX30 346   -6,54   -1,86%
  • IDXHIDIV20 428   -6,37   -1,47%
  • IDX80 93   -2,15   -2,27%
  • IDXV30 117   -1,73   -1,46%
  • IDXQ30 111   -1,86   -1,65%

Hari Ini (27/7) 30 Tahun Kudatuli, Peristiwa Berdarah Dalam Sejarah Politik Indonesia


Senin, 27 Juli 2026 / 04:10 WIB
Hari Ini (27/7) 30 Tahun Kudatuli, Peristiwa Berdarah Dalam Sejarah Politik Indonesia
ILUSTRASI. Hari Ini (27/7) 30 Tahun Kudatuli, Peristiwa Berdarah Dalam Sejarah Politik Indonesia


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Hari ini, Senin 27 Juli 2026 adalah salah satu hari kelam yang tidak boleh dilupakan. Hari ini adalah tepat 30 tahun peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli. Apa itu Kudatuli?

Dirangkum dari Kompas.com, peristiwa Kudatuli menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah politik Indonesia. Tragedi yang terjadi pada 27 Juli 1996 di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, menewaskan sedikitnya lima orang, melukai 149 orang, dan menyebabkan 23 orang dinyatakan hilang.

Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Kudatuli atau Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli itu bermula dari konflik kepemimpinan di tubuh PDI yang berkembang menjadi bentrokan fisik dan kerusuhan.

Baca Juga: Rasio Utang Pemerintah 40% PDB, Ekonom Soroti Kemampuan Bayar dan Kualitas Belanja

Awal Mula Konflik di Tubuh PDI

Perselisihan berawal setelah Megawati Soekarnoputri muncul sebagai tokoh baru di PDI pada akhir 1980-an. Kehadirannya dinilai mampu meningkatkan popularitas partai dan mendongkrak perolehan suara PDI dalam pemilihan umum.

Pada Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Surabaya, Megawati terpilih sebagai Ketua Umum PDI untuk periode 1993-1998. Hasil tersebut kemudian disahkan melalui Musyawarah Nasional (Munas) PDI di Jakarta pada 22 Desember 1993.

Namun, kepemimpinan Megawati tidak sepenuhnya diterima. Soerjadi, yang sebelumnya menjabat Ketua Umum PDI, mengklaim kepemimpinan partai dan kembali terpilih dalam Kongres Luar Biasa di Medan pada 22 Juni 1996. Konflik kepengurusan tersebut memunculkan dualisme kepemimpinan di internal PDI.

Tonton: BGN Bantah Motor Listrik SPPG Hasil Korupsi, Nasib 21.801 Unit Ditentukan Prabowo

Pemerintah Mengakui Kepengurusan Soerjadi

Situasi semakin memanas ketika pemerintah Orde Baru tidak mengakui kepemimpinan Megawati.

Melalui Kepala Staf Sosial Politik ABRI saat itu, Letjen Syarwan Hamid, pemerintah menyatakan pengakuan terhadap kepengurusan Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.

Keputusan tersebut memicu ketegangan politik yang terus meningkat, terutama terkait penguasaan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

Kronologi Peristiwa Kudatuli

Puncak konflik terjadi pada pagi hari, 27 Juli 1996.

Sekelompok massa yang mendukung Soerjadi mendatangi Kantor DPP PDI yang saat itu masih dikuasai pendukung Megawati. Kedatangan massa tersebut memicu bentrokan antara kedua kubu.

Pendukung Megawati kemudian berdatangan ke lokasi untuk mempertahankan kantor partai. Situasi semakin tidak terkendali setelah aparat keamanan ikut melakukan penertiban yang berujung pada kerusuhan yang meluas hingga sejumlah wilayah di Jakarta.

Menurut laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), tragedi tersebut mengakibatkan:

  • Lima orang meninggal dunia.
  • Sebanyak 149 orang mengalami luka-luka.
  • Sebanyak 23 orang dinyatakan hilang.

Peristiwa tersebut kemudian dikenal luas sebagai Kudatuli, singkatan dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli.

Tonton: 11 Kepala Daerah Kena OTT KPK, Mendagri Introspeksi, Jangan Korupsi

Dampak Kudatuli terhadap Politik Indonesia

Peristiwa Kudatuli menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia pada masa Orde Baru.

Tragedi tersebut memicu kritik terhadap pembatasan kebebasan politik serta meningkatnya tuntutan reformasi yang beberapa tahun kemudian berujung pada perubahan besar dalam sistem politik nasional.

Bagi PDI, Kudatuli menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan politik yang kemudian melahirkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan).

Hingga kini, setiap 27 Juli, peristiwa Kudatuli masih dikenang sebagai salah satu tragedi politik yang memberikan pelajaran mengenai pentingnya demokrasi, supremasi hukum, serta perlindungan hak asasi manusia di Indonesia.
 

Harta Kepala BGN Sudaryono Disorot! Punya Aset Rp69 Miliar, Tapi Utang Rp60 Miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×