kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.652.000   21.000   0,80%
  • USD/IDR 16.889   19,00   0,11%
  • IDX 8.948   63,58   0,72%
  • KOMPAS100 1.240   13,93   1,14%
  • LQ45 879   12,32   1,42%
  • ISSI 327   2,65   0,82%
  • IDX30 449   8,13   1,84%
  • IDXHIDIV20 531   10,57   2,03%
  • IDX80 138   1,59   1,17%
  • IDXV30 147   2,50   1,73%
  • IDXQ30 144   2,26   1,60%

Harga minyak turun, pemerintah kaji lagi harga BBM


Jumat, 28 November 2014 / 15:13 WIB
Harga minyak turun, pemerintah kaji lagi harga BBM
ILUSTRASI. Penyebab Insomnia Lainnya


Reporter: Pratama Guitarra | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Harga minyak dunia tengah mengalami tren penurunan. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mempertimbangkan untuk kembali menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mengikuti penurunan harga tersebut.

Untuk itu, Menteri ESDM, Sudirman Said mengatakan, telah meminta Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Migas), PT Pertamina (Persero), Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), serta instansi terkait guna menghitung ulang harga keekonomian minyak saat ini.

"Yang pasti harga BBM bersubsidi harus di bawah harga keekonomian, tapi jangan kemudian lantas menurunkan. Kita sedang mengamati untuk menyesuaikan ke harga keekonomian," ujarnya di kantor Kementerian ESDM, Jumat (28/11).

Meski begitu, kata Sudirman, Pemerintah menegaskan tak akan terburu-buru melihat harga minyak dunia yang sedang menurun untuk cepat mengambil keputusan untuk juga menurunkan harga BBM bersubsidi. Ia bilang, kebijakan untuk menaikkan atau menurunkan harga BBM harus melewati proses yang rumit dan panjang.

"Tapi tidak lantas ekstrem menurunkan. Soalnya kita sudah mati-matian menyesuaikan ke harga keekonomian," terang Sudirman.

Saat ini, harga minyak jenis light crude untuk pengiriman Desember 2014 tercatat US$ 68,97 per barel. Angka ini terus mengalami penurunan sejak dua bulan terakhir akibat berlebihnya pasokan di pasar minyak dunia. Adapun Pemerintah pada 18 November 2014 kemarin telah menaikkan harga premium dan solar sebesar Rp 2.000 per liter.

Terkait itu, Sudirman bilang, dengan naiknya harga BBM bersubsidi, bisa meminimalisir dana subsidi setipis mungkin dan juga bisa digeser ke sektor yang lebih produktif.

"Kemudian disparitas harga makin diminimalkan sehingga soal penyelundupan dan penyelewengan bisa dihilangkan," jelas dia.

Sudirman meminta kepada masyarakat untuk memikul beban yang nyata, sehingga bisa belajar mengetahui hal yang sesungguhnya. “Agar masyarakat memiliki daya saing dan lebih tangguh, jadi kaitannya harus pelan-pelan menunjukkan biaya yang nyata,” pungkas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×