Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan harga emas dunia menggerus nilai cadangan emas Bank Indonesia (BI) sebesar 5,68% pada September 2026.
Namun, tekanan tersebut belum banyak memengaruhi total cadangan devisa Indonesia karena kenaikan komponen valuta asing (valas) membantu menahan penurunan nilainya.
Berdasarkan data BI, nilai cadangan emas moneter per akhir September 2026 tercatat US$ 11,74 miliar, turun dari US$ 12,45 miliar pada akhir Agustus 2026.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Dipicu Aksi Ambil Untung Investor
Pada periode yang sama, cadangan devisa Indonesia hanya menyusut 0,13% menjadi US$ 146,32 miliar dari US$ 146,51 miliar.
Perbedaan penurunan tersebut menunjukkan pentingnya komposisi aset dalam pengelolaan cadangan devisa, terutama ketika harga emas dan pasar keuangan global bergerak bergejolak.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, penurunan nilai cadangan emas BI terutama dipicu koreksi harga emas dunia, bukan semata-mata berkurangnya kepemilikan emas.
Data World Gold Council menunjukkan, harga emas dunia turun 8,5% secara bulanan pada September 2026.
Tekanan datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), penguatan dolar AS, serta aksi ambil untung dan pengurangan posisi investor di pasar emas.
Baca Juga: Harga Emas Turun Setelah Reli Tajam, Investor Mulai Cermati Inflasi
"Ketika imbal hasil obligasi meningkat, daya tarik emas yang tidak memberikan pendapatan bunga cenderung berkurang," kata Josua, Rabu (28/10).
Data World Gold Council juga menunjukkan bahwa volume cadangan emas BI mencapai 87,04 ton pada kuartal II-2026, meningkat dibandingkan 78,57 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, volume kepemilikan emas BI mulai meningkat sejak kuartal III-2025 menjadi 80,4 ton, setelah bertahan di level 78,57 ton sejak setidaknya kuartal I-2023.
Dengan demikian, penurunan nilai cadangan emas pada September perlu dibedakan dari perubahan volume kepemilikan karena harga pasar turut menentukan nilai aset tersebut.
Menjaga likuiditas dan diversifikasi
Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, tantangan BI adalah menjaga manfaat emas sebagai pelindung nilai jangka panjang tanpa mengorbankan kecukupan aset likuid untuk memenuhi kebutuhan eksternal dan menstabilkan rupiah.
Josua menilai, BI perlu mempertahankan emas sebagai instrumen diversifikasi strategis dan membuka ruang untuk menambah kepemilikannya secara bertahap dalam jangka menengah. Porsi emas dalam cadangan devisa pada September 2026 masih sekitar 8%.
Menurut dia, emas tetap berperan sebagai penyimpan nilai jangka panjang, pelindung terhadap risiko geopolitik, serta instrumen untuk mengurangi ketergantungan berlebihan pada satu mata uang.
Namun, tekanan terhadap rupiah, kenaikan harga minyak, serta ketidakpastian arus modal akibat risiko geopolitik dan persoalan Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuat pengelolaan cadangan devisa perlu mengutamakan likuiditas dan keamanan aset.
Baca Juga: Safe Haven Goyah: Harga Emas Turun di Tengah Kebuntuan Damai AS-Iran
Karena itu, Josua menilai, kepemilikan dolar AS dan surat berharga pemerintah negara maju berkualitas tinggi dengan tenor pendek tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas valas sekaligus mendukung stabilisasi nilai tukar.
Senada, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menekankan pentingnya menjaga cadangan devisa pada tingkat yang memadai untuk menopang stabilitas rupiah dan memenuhi kebutuhan eksternal.
"Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara likuiditas, keamanan, dan diversifikasi risiko," tandas Lukman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














