Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, tantangan BI adalah menjaga manfaat emas sebagai pelindung nilai jangka panjang tanpa mengorbankan kecukupan aset likuid untuk memenuhi kebutuhan eksternal dan menstabilkan rupiah.
Josua menilai, BI perlu mempertahankan emas sebagai instrumen diversifikasi strategis dan membuka ruang untuk menambah kepemilikannya secara bertahap dalam jangka menengah. Porsi emas dalam cadangan devisa pada September 2026 masih sekitar 8%.
Menurut dia, emas tetap berperan sebagai penyimpan nilai jangka panjang, pelindung terhadap risiko geopolitik, serta instrumen untuk mengurangi ketergantungan berlebihan pada satu mata uang.
Namun, tekanan terhadap rupiah, kenaikan harga minyak, serta ketidakpastian arus modal akibat risiko geopolitik dan persoalan Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuat pengelolaan cadangan devisa perlu mengutamakan likuiditas dan keamanan aset.
Baca Juga: Safe Haven Goyah: Harga Emas Turun di Tengah Kebuntuan Damai AS-Iran
Karena itu, Josua menilai, kepemilikan dolar AS dan surat berharga pemerintah negara maju berkualitas tinggi dengan tenor pendek tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas valas sekaligus mendukung stabilisasi nilai tukar.
Senada, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menekankan pentingnya menjaga cadangan devisa pada tingkat yang memadai untuk menopang stabilitas rupiah dan memenuhi kebutuhan eksternal.
"Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara likuiditas, keamanan, dan diversifikasi risiko," tandas Lukman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














