kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.130   16,00   0,09%
  • IDX 7.500   41,69   0,56%
  • KOMPAS100 1.037   8,08   0,79%
  • LQ45 746   -0,12   -0,02%
  • ISSI 272   3,24   1,21%
  • IDX30 399   -1,25   -0,31%
  • IDXHIDIV20 486   -4,46   -0,91%
  • IDX80 116   0,59   0,51%
  • IDXV30 135   0,10   0,08%
  • IDXQ30 128   -1,20   -0,93%

Gejolak Iran–AS Picu Tekanan Global, ASEAN Siapkan Strategi Tahan Guncangan


Senin, 13 April 2026 / 12:36 WIB
Gejolak Iran–AS Picu Tekanan Global, ASEAN Siapkan Strategi Tahan Guncangan
ILUSTRASI. Pejalan kaki melintas dekat gapura Bank Indonesia (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel mulai menekan perekonomian global melalui tiga jalur utama, yakni finansial, harga komoditas, serta perdagangan. 

Dampak ini memicu ketidakpastian pasar, kenaikan harga energi, hingga gangguan rantai pasok, yang berpotensi menyeret ekonomi global ke arah perlambatan disertai inflasi.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan, dari sisi finansial, dampak langsung konflik relatif terbatas karena Iran dan Israel bukan pusat keuangan global.

Baca Juga: Ekonomi Dunia Terancam Resesi: Konflik Iran-AS Picu Krisis Energi

Namun, efek tidak langsung menjadi signifikan karena keterlibatan AS sebagai pusat sistem keuangan dunia.

"Dampak tidak langsungnya adalah ketidakpastian pasar keuangan global dan meningkatnya sentimen risiko,” ujar Destry dalam Central Banking Forum, Senin (13/4/2026).

Kondisi ini mendorong pelaku pasar beralih ke aset aman (safe haven) dan menghindari risiko (risk-off).

Akibatnya, aliran modal global lebih banyak masuk ke negara maju, sementara negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami tekanan arus keluar dana.

BI mencatat, secara keseluruhan masih terjadi capital outflow sekitar Rp 21 triliun, meski mulai ada aliran masuk terbatas ke SBN, saham, dan Sekuritas Rupiah BI (SRBI).

Baca Juga: Gejolak Tarif AS Picu Desakan Tunda Voting Perjanjian Dagang UE-AS

Tekanan juga terlihat dari penguatan indeks dolar AS (DXY) dan kenaikan imbal hasil obligasi AS ke kisaran 4,5%–4,6%, yang mencerminkan meningkatnya premi risiko global dan ekspektasi inflasi.

Dari sisi harga komoditas, konflik memicu gangguan distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Meski kontribusi produksi Iran hanya sekitar 5% global, gangguan di jalur ini langsung mendorong kenaikan harga minyak.

Selain itu, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas meningkat. Harga komoditas lain seperti gas alam cair (LNG), batubara, aluminium, pupuk, hingga produk pertanian juga ikut terdorong naik. 

Baca Juga: Anomali Perang Iran: AS Optimis Usai Cepat, Iran Tegas Tolak Negosiasi

Kenaikan harga batubara dan crude palm oil (CPO) bahkan memberi efek positif bagi Indonesia sebagai eksportir utama komoditas tersebut, meski di sisi lain lonjakan harga minyak menjadi beban.

Dari jalur perdagangan, kontribusi Iran terhadap perdagangan global memang kecil, di bawah 1%. Namun, gangguan di Selat Hormuz berdampak pada rantai pasok negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

Efek lanjutannya merembet ke mitra dagang utama seperti China, India, dan Turki.

Gangguan ini mendorong kenaikan biaya logistik, pengapalan, dan asuransi, yang akhirnya menekan rantai pasok global.

Destry menyimpulkan, kombinasi ketiga jalur tersebut mendorong kenaikan harga komoditas secara luas, mulai dari energi hingga produk pertanian dan industri.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Cermati Ketegangan Iran-AS dan Data Ekonomi AS

Situasi ini diperkirakan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global tahun ini, disertai kenaikan inflasi. BI menilai kondisi tersebut mengarah pada risiko stagflasi, yakni ketika pertumbuhan melambat namun tekanan harga tetap tinggi.

Sejumlah negara mulai merespons dengan pelonggaran kebijakan fiskal, sementara kebijakan moneter cenderung lebih hati-hati. Di saat yang sama, masing-masing negara berupaya membuat aset domestiknya lebih menarik guna menjaga aliran modal.

Di tengah tekanan global tersebut, negara-negara ASEAN bergerak memperkuat ketahanan ekonomi kawasan. Komitmen ini ditegaskan dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN (AFMGM) ke-13 pada 10 April 2026.

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menyatakan, stabilitas ekonomi kawasan tetap terjaga berkat dukungan permintaan domestik dan investasi, meski dibayangi ketidakpastian global.

Baca Juga: Perang Dagang Mereda? AS Buka Akses Pasar dan Siap Beri Tarif 0% untuk Barang Vietnam

“Kerangka kerja sama yang baru harus efektif untuk membahas isu strategis seperti stabilitas sistem keuangan dan risiko kawasan,” ujarnya.

ASEAN pun menyepakati sejumlah langkah strategis, mulai dari penguatan pasar keuangan, percepatan konektivitas sistem pembayaran lintas negara, hingga peningkatan kesehatan finansial masyarakat.

Selain itu, disusun pula Finance Sectoral Plan 2026–2030 serta inisiatif Project Revive untuk memperkuat tata kelola sektor keuangan kawasan.

Baca Juga: Negosiasi Nuklir Iran-AS Digelar di Oman, Risiko Eskalasi Militer Membayangi

Di sisi lain, integrasi keuangan terus diperluas melalui penguatan kerangka perbankan, liberalisasi akun modal, serta penggunaan mata uang lokal dalam transaksi (Local Currency Transaction). ASEAN juga memperkuat jaring pengaman keuangan melalui pembaruan ASEAN Swap Arrangement.

Langkah-langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas kawasan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di tengah meningkatnya tekanan global akibat konflik geopolitik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×