Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mulai kehilangan salah satu penopang pentingnya, yakni sektor eksternal.
Pelemahan kinerja ekspor di tengah impor yang masih tumbuh tinggi membuat kontribusi ekspor neto (net export) terhadap pertumbuhan ekonomi berubah menjadi negatif.
Direktur Big Data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto mengatakan, dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga memang masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, kontribusi sektor eksternal justru melemah sehingga mengurangi laju pertumbuhan ekonomi.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini mulai kehilangan bantalan dari eksternal," ujar Eko dalam Diskusi Publik INDEF, Kamis (6/8/2026).
Baca Juga: Konsumsi Rumah Tangga Bergantung pada Belanja Pemerintah, Daya Beli Murni Belum Pulih
Ia menjelaskan, kondisi tersebut terlihat dari pertumbuhan ekspor yang melambat tajam. Pada kuartal II 2026, ekspor hanya tumbuh sekitar 4,13%, sedangkan impor masih meningkat 8,82%.
Akibatnya, kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi negatif sebesar 0,78%.
"Ini menggambarkan bahwa pertumbuhan ekspor anjlok cukup tajam, tetapi impornya masih tumbuh tinggi. Akibatnya net export membesar dan menggerus (sumber ekspor) ke pertumbuhan ekonomi menjadi negatif 0,78%," katanya.
Menurut Eko, kondisi tersebut menunjukkan Indonesia mulai kehilangan daya saing di pasar global, terutama dari sisi kemampuan mendorong ekspor.
Sebagai perbandingan, pada kuartal II 2025 ekspor masih mampu tumbuh dua digit sebesar 10,67%, sementara impor meningkat sekitar 11%. Meski impor saat itu sedikit lebih tinggi, kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi hanya negatif 0,02%, sehingga belum menjadi beban yang signifikan.
"Kalau sektor eksternal ini bisa dijaga, pertumbuhan ekonomi kita sebenarnya bisa lebih tinggi," imbuhnya.
Eko juga mengingatkan pemerintah tidak lagi terlena dengan capaian surplus neraca perdagangan yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. Menurutnya, kondisi tersebut mulai berubah dalam beberapa waktu terakhir. Surplus neraca perdagangan berbalik defisit pada Mei dan Juni 2026 setelah mengalami surplus 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.
Baca Juga: Ada Usulan Tambahan Anggaran, Berapa Besaran Defisit RAPBN 2027?
“Jadi kita nggak bisa lagi membanggakan-banggakan berapa puluh bulan mengalami surplus neraca perdagangan, dua bulan terakhir sudah defisit ya, mudah-mudahan ke depan kita dapat lagi,” jelasnya.
Ia menilai pelemahan kontribusi sektor eksternal menjadi sinyal bahwa pemerintah perlu memperkuat daya saing ekspor di tengah meningkatnya tantangan perdagangan global. Tanpa perbaikan pada sektor tersebut, pertumbuhan ekonomi berisiko semakin bergantung pada konsumsi domestik dan belanja pemerintah sebagai motor utama perekonomian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
