kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.001,74   -2,58   -0.26%
  • EMAS981.000 0,10%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Ekonom Sebut Perang Rusia dan Ukraina Penyebab Pelemahan Ekonomi Global


Selasa, 04 Oktober 2022 / 18:26 WIB
Ekonom Sebut Perang Rusia dan Ukraina Penyebab Pelemahan Ekonomi Global
ILUSTRASI. The Russian corvette Aleksin fires missiles during a parade marking Navy Day in Baltiysk in the Kaliningrad region, Russia July 31, 2022. Seperti Ini Kondisi Perekonomian Kalau Perang Rusia dan Ukraina Tidak Terjadi.

Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Invasi Rusia ke Ukraina membawa dampak besar terhadap perekonomian global, termasuk perekonomian Indonesia. Bank Mandiri melakukan stress test. Hasilnya menunjukkan kondisi perekonomian akan lebih baik bila invasi ini tidak terjadi. 

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menegaskan,  bila Februari 2022 lalu Rusia tidak menyerang Ukraina, maka kondisi ekspektasi inflasi dan ekonomi global akan relatif baik-baik saja. Demikian juga dengan ekonomi Indonesia. 

“Ekspektasi inflasi 2022 tidak setinggi saat ini, respons kebijakan ketat bank sentral dunia tak akan seagresif ini, ekonomi global relatif baik-baik saja. Kita akan menikmati situasi pemulihan ekonomi yang lebih panjang tanpa gejolak global maupun dalam negeri,” terang Andry dalam media gathering, Selasa (4/10) secara daring. 

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Bank Mandiri Dian Ayu Yustina kemudian menambahkan. Sebelum adanya perang Rusia dan Ukraina, dirinya meyakini inflasi Indonesia di tahun 2022 akan berada di kisaran 3% secara tahunan atau year on year (yoy) hingga 4% yoy, atau masih ada di kisaran sasaran BI. 

Baca Juga: Ekonom Ini Sebut Pemerintah Belum Siap Terapkan Pajak Karbon Tahun Ini, Mengapa?

Sedangkan inflasi inti akan berada di level 3,5% yoy hingga 3,7% yoy. Peningkatan inflasi ini menunjukkan adanya daya beli masyarakat yang membaik, setelah keok oleh Covid-19. 

Nah, karena perang ini terjadi, maka inflasi pada tahun 2022 berpotensi membengkak. Perang kedua negara ini memberikan dampak berupa disrupsi rantai pasok global yang kemudian menyundut inflasi energi dan pangan. 

Peningkatan harga energi global yang signifikan membuat pemerintah kemudian menaikkan anggaran subsidi dan kompensasi energi menjadi Rp 502 triliun, atau tiga kali lipat dari pagu semula. 

Karena harga energi global masih panas dan berpotensi makin memperbesar kocek yang harus dirogoh pemerintah, maka harga BBM dalam negeri pun dinaikkan. 

Baca Juga: Dukung UMKM, Kontribusi Pembiayaan Inklusif BNI Sudah Capai 27,8%

Peningkatan harga BBM dalam negeri ini akhirnya membuat inflasi Indonesia 2022 berpeluang untuk ada di level 6,27% yoy, atau melampaui batas atas target BI yang sebesar 4% yoy.

Pasalnya, dampak peningkatan harga BBM tak hanya di fase pertama saja, tetapi ada rambatan ke naiknya harga sektor-sektor lain. 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Supply Chain Management Principles (SCMP)

[X]
×