kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.839   37,00   0,22%
  • IDX 8.307   15,76   0,19%
  • KOMPAS100 1.174   2,25   0,19%
  • LQ45 842   -0,22   -0,03%
  • ISSI 297   1,10   0,37%
  • IDX30 437   0,64   0,15%
  • IDXHIDIV20 521   0,70   0,13%
  • IDX80 131   0,29   0,22%
  • IDXV30 144   0,99   0,69%
  • IDXQ30 141   -0,14   -0,10%

Ekonom Indef prediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III minus 3,09%


Rabu, 04 November 2020 / 20:37 WIB
Ekonom Indef prediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III minus 3,09%
ILUSTRASI. Ekonom Indef prediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III minus 3,09%


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) melihat kalau pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 masih akan berada dalam zona negatif, setelah pada kuartal II-2020 perekonomian tercatat tumbuh minus 5,32% yoy.

Direktur Eksekutif Indef,Tauhid Ahmad, mengatakan, perekonomian akan tumbuh minus 3,09% yoy, dan Indonesia pun resmi memasuki jurang resesi.

“Mengapa masih minus? Karena kasus harian pandemi Covid-19 ini masih tinggi. Jadi, masih menghambat aktivitas ekonomi kita dan ini kan dibandingkan dengan tahun 2019 yang tidak ada Covid-19,” ujar Tauhid kepada Kontan.co.id, Rabu (4/11).

Meski begitu, bila dibandingkan dengan perekonomian di kuartal II-2020, perkiraan pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 memang menunjukkan perbaikan. Menurut Tauhid, ini disebabkan oleh beberapa hal.

Baca Juga: Pemenang pemilu AS tidak berdampak signifikan pada Indonesia karena alasan ini

Pertama, aktivitas perekonomian yang sudah mulai tumbuh meski terbatas. Hal ini tercermin dari pergerakan mobilitas ke tempat kerja, tempat transit, perdagangan, dan lain-lain.

Kedua, dari sisi konsumsi rumah tangga juga menunjukkan perbaikan meski belum optimal. Ini terlihat dari Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang meningkat.

Perbaikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini juga bisa menjadi angin segar bagi prospek perekonomian. Apalagi, konsumsi rumah tangga biasanya menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi.

Akan tetapi, pada periode Juli 2020 hingga September 2020 ini, Tauhid lebih melihat kalau perekonomian didorong oleh belanja pemerintah. Akselerasi belanja pemerintah bersumber dari penyaluran program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang mulai masif.

Ke depan, Tauhid melihat kalau pertumbuhan ekonomi di keseluruhan tahun 2020 masih akan negatif. Proyeksinya, akan bisa berada di kisaran minus 1,35% yoy hingga minus 1,8% yoy.

Baca Juga: Sri Mulyani: Ekonomi kuartal III-2020 membaik, tapi ongkosnya mahal

Kalau ingin perekonomian bisa lebih baik, kunci utamanya adalah perbaikan sektor kesehatan. Mneurutnya, pembatasan aktivitas di daerah-daerah zona merah juga merupakan hal yang tepat karena meminimalisir penularan Covid-19 ini.

Selain itu, pemerintah juga perlu memperhatikan dengan lebih kelompok-kelompok yang rentan dan sangat terdampak pandemi. Apalagi, ini menyangkut daya beli dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

Terakhir, perlu diperhatikan juga dampak Covid-19 ini terhadap sektor keuangan dan financial yang sudah mulai berjalan.

Selanjutnya: Rilis pertumbuhan ekonomi dan hasil pilpres AS mewarnai IHSG dalam jangka pendek

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×