kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -35.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.983   12,00   0,07%
  • IDX 6.315   -19,16   -0,30%
  • KOMPAS100 830   -5,48   -0,66%
  • LQ45 627   -5,43   -0,86%
  • ISSI 218   0,30   0,14%
  • IDX30 353   -3,74   -1,05%
  • IDXHIDIV20 435   -6,25   -1,42%
  • IDX80 95   -0,51   -0,53%
  • IDXV30 119   -0,20   -0,17%
  • IDXQ30 113   -1,54   -1,35%

Ekonom Belum Melihat Adanya Crowding Out Persaingan SRBI dengan SBN dan Swasta


Selasa, 23 Juli 2024 / 19:58 WIB
Ekonom Belum Melihat Adanya Crowding Out Persaingan SRBI dengan SBN dan Swasta
ILUSTRASI. Pejalan kaki melintas dekat gapura Bank Indonesia di Jakarta, Jumat (24/5/2024). Hingga 21 Mei 2024 total aliran modal yang masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 508,41 triliun, dengan aliran modal asing senilai Rp 142,9 triliun, atau setara 28,11% dari total pembelian SRBI. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/24/05/2024


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Keberadaan Sekuritas Bank Indonesia (SRBI) dan sekuritas valuta asing Bank Indonesia (SVBI) dinilai lebih dilirik dibandingkan Surat Berharga Negara (SBN) dan surat swasta.

Bank Indonesia mencatat, hingga Juni 2024 kepemilikan SRBI oleh perbankan mencapai Rp 461,29 triliun, setara 63,97% dari total SRBI. Angka tersebut naik signifikan dibanding posisi saat kali pertama SRBI diterbitkan pada September 2023 lalu, yakni sebesar Rp 66,5 triliun.

Data tersebut menimbulkan spekulasi bahwa perbankan lebih memilih menempatkan dananya pada instrumen tersebut, dibandingkan menyalurkan kredit. Terlebih, SRBI menawarkan bunga yang menarik, yakni di atas 7%.

Baca Juga: Duit Bank Mengalir dari Surat Utang Negara ke SRBI

Meski begitu, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalia Situmorang menilai, sejauh ini belum melihat adanya crowding out yang nyata efek dari SRBI yang lebih dilirik.

Menurutnya, pertumbuhan kredit masih tetap tinggi tercermin dari uang beredar yang naik, salah satunya karena adanya penyaluran kredit perbankan.

Bank Indonesia mencatat, likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juni 2024 tumbuh lebih tinggi atau mencapai Rp 9.026,2 triliun, tumbuh sebesar 7,8% secara tahunan alias year on year (YoY).

Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 7,6% YoY.

“Jadi perbankan gencar menyalurkan kredit ditengah momentum pemulihan ekonomi dan mobilitas yang meningkat. Sebagaimana tercermin dari uang beredar yang naik karena peningkatan penyaluran kredit oleh perbankan,” tutur Ana kepada Kontan.co.id, Selasa (23/7).

Baca Juga: SRBI Jadi Primadona Investor Asing, Bunga yang Lebih Besar Membuat SBN Kurang Dilirik

Di samping itu, Ana juga melihat meskipun investor asing gencar masuk ke SRBI ataupun obligasi swasta, justru akan berdampak positif. Karena hal tersebut menjadi salah satu tujuan operasi moneter BI untuk mendukung kestabilan rupiah.

“Kita lihat justru keseluruhan kondisi ini positif sebagai indikasi masih solidnya kondisi ekonomi, kredit tumbuh kencang meski suku bunga tinggi dan tetap terjaganya kepercayaan investor asing,” tambahnya.

Ana menambahkan, hingga saat ini kebijakan yang dilakukan BI juga sudah cukup akomodatif dalam menjaga kestabilan makro dan likuiditasnya.

Karena sejak awal Juni 2024 ini, kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) BI sudah berhasil menambah likuiditas perbankan sekitar Rp 255,8 triliun sepanjang 2024 ini, yang mana hampir Rp 90 triliun di Juni 2024.

Baca Juga: Bank Indonesia Tegaskan SRBI Bukan Saingan Kredit

“Jadi kebijakan BI tetap pro-growth ya dengan strategi tight interest rate, loose macroprudential,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Grup Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Ramdan Denny Prakoso menegaskan bahwa SRBI bukan saingan kredit. Ia menyebut, SRBI merupakan instrumen pasar yang likuid.

"SRBI bukan kompetisi dari kredit. Sepanjang belum ada tempat kredit, dia (dana perbankan) boleh ditempatkan di SRBI. Jika dia dapat kredit, bank gampang sekali jual," kata Denny, Senin (22/7).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×