kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Ekonom Bank Permata: Burden sharing tak akan kerek inflasi


Selasa, 07 Juli 2020 / 21:50 WIB
Ekonom Bank Permata: Burden sharing tak akan kerek inflasi
ILUSTRASI. Josua Pardede, Vice President Ekonom Bank Permata. Foto: DOK Pribadi


Reporter: Bidara Pink | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah sepakati skema burden sharing (berbagi beban) dalam rangka menghadapi dampak negatif Covid-19 terhadap perekonomian.

Burden sharing tersebut akan dilakukan BI dengan mekanisme, membeli Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan oleh pemerintah lewat private placement dengan referensi suku bunga reverse repo rate.

Langkah ini bukan langkah perdana BI dalam membeli pasar obligasi pemerintah di pasar primer. Bank sentral, sudah mulai melakukan pembelian di pasar primer lewat mekanisme pasar bahkan sejak Juni 2020 lalu, setelah ada kesepakatan bersama dengan Menkeu.

Baca Juga: Indef: Kalau jumlah uang beredar naik signifikan akan menyebabkan hyper inflasi

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menemukan, kalau langkah intervensi di pasar primer obligasi oleh bank sentral belum membuka tanda-tanda adanya kenaikan pertumbuhan uang secara signifikan di perekonomian Indonesia.

"Secara tren memang ada peningkatan pertumbuhan M1 maupun M2 di perekonomian. Namun, pertumbuhan uang inipun masih terjaga seiring dengan tingkat pertumbuhan year to date dari M1 dan M2 yang masih lebih rendah dari tahun lalu," kata Josua kepada Kontan.co.id, Selasa (7/7).

Tercatat, peningkatan M1 hingga saat ini sebesar 5,64% ytd, atau lebih rendah dari pertumbuhannya di periode yang sama tahun lalu yang sebesar 7,36% ytd. Sementara pertumbuhan M2 tercatat 5,60% ytd atau juga lebih rendah dari periode yang sama tahun 2019 sebesar 7,83% ytd.

Baca Juga: Burden sharing BI-Kemenkeu jadi sentimen positif lelang SBSN 7 Juli 2020

Dengan terbatasnya dampak kebijakan BI terhadap M1 dan M2, maka inflasi juga diperkirakan masih akan cenderung rendah. Apalagi, bank sentral juga telah mengeluarkan kebijakan akomodatif untuk menahan tekanan inflasi.

"Perlambatan inflasi ini, selain karena akibat terbatasnya dampak kebijakan pemerintah, juga disebabkan oleh melambatnya permintaan barang dan jasa," tambah Josua.

Dengan demikian, Josua masih melihat kalau inflasi pada tahun ini masih akan bergerak di kisaran target sasaran BI, yaitu 3% plus minus 1%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×