kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Efek perlambatan Ekonomi China 2018 tak signifikan


Jumat, 15 Desember 2017 / 08:52 WIB
Efek perlambatan Ekonomi China 2018 tak signifikan


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperkirakan ekonomi China tahun depan hanya akan tumbuh 6,5%, melambat dibanding perkiraan pertumbuhan pada tahun ini sekitar 6,8%-6,9%. Meski begitu, hal ini diperkirakan BI tidak berdampak pada ekonomi dalam negeri. Sebabnya, harga komoditas masih akan tetap tinggi dan menguntungkan pengusaha.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo mengatakan, proses rebalancing dan deleveraging China akan mempengaruhi permintaan komoditas. Lantaran mereka akan mengurangi kegiatan investasinya.

Namun, proses rebalancing China akan terjadi secara bertahap. Hal tersebut diperkirakan membuat konsumsi dan ekspor China akan tetap tinggi. Ini pula yang meyakini BI bahwa ekonomi China masih bisa tumbuh di atas 6,5% tahun depan.

"Ke Indonesia harapannya penurunan harga komoditas dunia itu secara pertumbuhan berkurang, tetapi tingkatnya diperkirakan masih tetap tinggi untuk produsen dalam kelayakan usaha. Masih cukup profitable," kata Dody saat konferensi pers di kantornya, Kamis (14/12) malam.

Ia mencontohkan, harga batubara saat ini masih di atas US$ 70 per ton, masih mengntungkan produsen. "Di 2018, perkiraannya kurang lebih di level yang cukup menarik untuk usaha," tambah dia.

Di sisi lain, ekspor komoditas Indonesia ke China dan ke beberapa negara lainnya masih akan tinggi. Tak hanya itu, Dody juga berharap ekspor lebih merata dan pertumbuhannya lebih tinggi dibanding tahun ini. Khususnya, ekspor yang terkait dengan manufaktur seperti tekstil dan produk tekstil dan bahan kimia.

"Jadi mudah-mudahan (pelemahan ekonomi China) tidak berpengaruh besar ke pertumbuhan ekonomi kita. Ekspor kami perkirakan masih akan jadi faktor utama (mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, di samping investasi," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×