kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Efek negatif hentikan utang luar negeri


Rabu, 11 Juni 2014 / 06:17 WIB
ILUSTRASI. Jadwal M4 Mobile Legends Knockout Stage Day 8, Hasil Pertandingan dan Link Streaming


Reporter: Risky Widia Puspitasari | Editor: Adi Wikanto

JAKARTA. Para ahli ekonomi menilai keinginan pasangan Prabowo-Hatta meniadakan utang luar negeri bakal berimplikasi buruk di dalam negeri. Namun, para ekonom tetap pesimistis rencana itu bisa terlaksana jika mereka memimpin 2014-2019.

Lana Soelistianingsih, Ekonom Universitas Indonesia (UI), menjelaskan, penghentian utang luar negeri akan mendorong pemerintah mencari pendanaan di dalam negeri. Walhasil, surat berharga negara (SBN) dan portofolio lainnya bakal semakin membanjiri pasar keuangan domestik. "Pemerintah juga harus memperbesar kupon SBN agar investor mau membelinya," kata Lana, Senin (9/6)

Dengan keterbatasan keuangan di pasar domestik, banjirnya SBN akan menyebabkan sektor korporasi kesulitan mencari pendanaan melalui obligasi. Kalaupun terpaksa, korporasi harus memasang suku bunga yang lebih tinggi lagi. "Akan timbul persaingan suku bunga obligasi dan bunga kredit perbankan," tandas Lana.

Selain itu, ada risiko nilai tukar. Ingat, meskipun utang luar negeri dihentikan, pemerintah masih punya kewajiban pelunasan hingga beberapa puluh tahun mendatang. Pembayaran utang masih harus menggunakan dollar AS, sehingga tanpa pasokan dari global bond ataupun pinjaman bilateral, permintaan mata uang dari negeri paman sam akan tinggi.

Ekonom Center on Reform of Economics, Hendri Saparini, juga meragukan skema ini bisa berjalan. Alasannya, investor dalam negeri belum terbiasa dengan investasi yang berisiko. Masyarakat lebih memilih investasi yang aman, seperti tabungan, emas, hingga properti.

Untuk menggenjot minat masyarakat berinvestasi di obligasi, butuh waktu panjang. Pemerintah dan pihak swasta harus gencar mempublikasikan secara langsung tentang sisi positif dan negatif obligasi. Publikasi harus berupa kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×