kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Duh, stok beras mengkhawatirkan


Minggu, 03 Januari 2016 / 17:00 WIB
Duh, stok beras mengkhawatirkan


Reporter: Agus Triyono | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Pasokan beras mulai mengkhawatirkan. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Perekonomian, pada akhir Desember kemarin jumlah stok beras nasional hanya tinggal satu juta ton saja.

Jumlah tersebut, sudah termasuk beras sebanyak 300 ribu ton yang diimpor pemerintah beberapa waktu lalu. Darmin Nasution, Menteri Koordinator Perekonomian mengatakan, menipisnya cadangan beras nasional tersebut terjadi akibat gangguan cuaca El Nino yang terjadi pada 2015 kemarin.

"Masalah itu kemarin telah menggeser masa tanam, dan dampak pergeseran masa tanam itu lebih besar daripada penurunan produksi karena hama," kata Darmin akhir pekan kemarin.

Darmin mengatakan, stok satu juta ton beras tersebut kemungkinan besar tidak akan bertahan lama. Karena dalam waktu dekat ini pemerintah akan kembali menggelontorkan beras untuk rakyat miskin yang jumlahnya mencapai 230 ribu ton.

Selain itu kata Darmin, stok beras tersebut juga akan tersedot untuk operasi pasar pada Januari atau Februari ini, sebagai tindak lanjut pemerintah untuk mengatasi gejolak harga beras yang kemungkinan besar akan terjadi akibat pergeseran masa tanam.

Agar stok beras tetap aman, Darmin mengatakan, pemerintah akan mengambil beberapa opsi. Salah satunya, membuka kran impor beras. "Kami ingin akhir Maret ada stok 1,35 juta ton,  itu sudah memperkirakan produksi dalam negeri dan impor," katanya.

Darmin tidak menjelaskan secara rinci, berapa kran impor yang akan dibuka untuk memenuhi kebutuhan beras. Sebab, pemerintah ingin melihat terlebih dahulu produksi beras di dalam negeri. "Kami akan hitung secara cermat, tapi untuk impor, kami akan perhatikan perkembangan di lapangan," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×