kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Deplu diminta sering gelar sidang internasional


Rabu, 28 Mei 2014 / 13:19 WIB
ILUSTRASI. Ada beberapa jenis makanan yang mampu perkuat tulang wanita akibat pubertas, kehamilan, persalinan, dan menopause (dok/First Cry Parenting)


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Mantan Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda mengatakan, dirinya diinstruksikan oleh presiden ketika itu, Megawati Soekarnoputri untuk mengadakan sidang internasional sesering mungkin. Menurut Hassan, sidang internasional tersebut diadakan lantaran Presiden Megawati ingin mengangkat martabat Indonesia di mata dunia.

Hal tersebut diungkapkan Hassan saat bersaksi dalam persidangan dugaan dugaan korupsi 12 penyelenggaraan sidang dan konferensi internasional di Departemen (kini Kementerian) Luar Negeri tahun 2004-2005 dengan terdakwa Sudjadnan Parnohadiningrat.

"Saya tidak hafal satu per satu, setelah Indonesia mengadakan KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) ASEAN 2003, Megawati menginstruksikan sidang sebanyak mungkin. Karena isu teroris, maka sidang lebih banyak di Bali," kata Hassan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Rabu (28/5).

Lebih lanjut kata Hassan, pemerintah pada saat itu ingin mengembalikan citra Indonesia dengan mengadakan sidang-sidang Internasional, seperti KTT ASEAN. Pasalnya, Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, cukup terpuruk setelah peristiwa 9 September 2001 yakni penyerangan menara WTC di Amerika Serikat. Ditambah pula dengan aksi terorisme bom di Kuningan dan bom Bali.

"Dunia mengalami 9/11 dengan implikasinya Indonesia sebagai negara islam, yaitu dimana islam dekat dengan ekstrimisme. Bagaimana kita memulihkan citra Indonesia dengan nama Muhammad, atas taggung jawab yang lebih besar," tambahnya.

Menurut Hasan, banyaknya penyelenggaraan sidang internasional ini tidak bisa dipandang sebagai suatu penyalahgunaan wewenang. Sebab, dirinya hanya menjalankan perintah Presiden. "Ada keadaan memaksa, dadakan karena perintah dari Presiden," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×