| : WIB | INDIKATOR |

Denda 10% bagi pembawa valuta asing berlebihan

Rabu, 14 Maret 2018 / 11:11 WIB

Denda 10% bagi pembawa valuta asing berlebihan
ILUSTRASI. Uang Dollar AS

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperketat larangan pembawaan uang kertas asing (UKA) ke dalam dan ke luar daerah pabean Indonesia. Pengetatan dilakukan melalui penerbitan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 20/2/PBI/2018 tentang Ketentuan Pembawaan Uang Kertas Lintas Pabean Indonesia.

Jika sebelumnya larangan hanya berupa pencegahan, kini menjadi sanksi denda. Dengan peraturan yang baru, denda akan dikenakan kepada orang atau korporasi yang membawa uang tunai lintas pabean dengan nilai lebih dari Rp 1 miliar.

Sanksi denda dikecualikan kepada badan berizin, yaitu bank dan penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) bukan bank yang telah memperoleh izin dan persetujuan dari BI.

Dengan aturan ini, BI berharap efektivitas penegakan hukum terhadap pelanggaran ketentuan pembawaan UKA akan meningkat. Sanksi denda efektif diterapkan mulai 3 September 2018.

Sanksi sebesar 10% dari seluruh uang tunai asing yang dibawa akan dikenakan kepada orang atau korporasi yang tidak memiliki izin dan persetujuan BI. Maksimal sanksi adalah sebesar Rp Rp 300 juta. Sanksi denda akan dikenakan kepada badan berizin yang membawa uang tunai asing melebihi persetujuan BI. Untuk badan itu, sanksinya sebesar 10% dari nilai kelebihan jumlah uang yang dibawa. Denda akan langsung dipungut oleh petugas pabean dan disetorkan ke kas negara.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, sanksi denda dilakukan untuk mempertegas pembatasan pembawaan uang asing tunai secara berlebih. Hal ini penting agar semua pihak, baik warga negara Indonesia maupun warga asing mematuhi batasan pembawaan uang tunai.

"Ini untuk meyakinkan masyarakat bahwa sistem moneter di Indonesia termasuk peredaran uang rupiah dan valuta asing dalam jumlah dan dalam kondisi yang bisa di kelola dengan baik," jelas Agus, Selasa (13/3).

Pengaturan tersebut juga diharapkan dapat mendukung efektivitas kebijakan moneter, khususnya dalam mengendalikan nilai tukar. Namun kebijakan ini bukan merupakan kebijakan kontrol devisa. Masyarakat yang memerlukan uang kertas asing di atas izin yang diberikan, tetap dapat memenuhi kebutuhan valuta asing, namun nontunai.

BI yakin, kebijakan ini akan efektif mencegah tindak pidana pencucian uang (TPPU), terutama pihak yang ingin membawa dana kejahatan dari Indonesia ke luar negeri.

 

Stabilitas kurs

 

Project Consultant ADB Institute Eric Sugandi bilang, , BI memang perlu memberi sanksi denda. Hal itu menyelaraskan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pembawaan Uang Tunai. PP itu mendenda bagi pihak pembawa uang tunai jumlah tertentu yang tidak lapor ke petugas bea dan cukai.

Adanya denda bisa mencegah gangguan nilai tukar. "Sanksi denda membuat kebijakan lebih kredibel. Ini juga bisa mencegah kejahatan seperti money laundering," kata Eric. Apalagi belakangan ini, kurs rupiah melemah terhadap dollar AS. Sepanjang Maret ini, kurs rupiah di level Rp 13.700-an per dollar AS.


Reporter: Arsy Ani Sucianingsih
Editor: Herlina Kartika

MAKROEKONOMI

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0009 || diagnostic_api_kanan = 0.0564 || diagnostic_web = 0.2225

Close [X]
×