kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Demokrat anggap survei LSI bukan suara rakyat


Senin, 03 Februari 2014 / 16:23 WIB
ILUSTRASI. Liburan ke Amerika Serikat, yuk! Diskon Traveloka Tiket Pesawat Rp750.000


Sumber: TribunNews.com | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Jajak pendapat yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan elektabilitas Partai Demokrat jeblok. Namun, Wakil Ketua Umum Demokrat Max Sopacua menilai hasil itu tidak menunjukkan suara rakyat sebenarnya.

"Enggak (itu bukan suara rakyat). Biarin saja survei seperti itu. Kita enggak usah komplain survei. Kita akan kerja," kata Max ketika dikonfirmasi, Senin (3/2/2014).

Max mengatakan pihaknya terus bekerja di masyarakat. Ia juga melihat elektabilitas Demokrat tidak terlalu buruk di daerah.

"Kita tidak terpengaruh dengan opini dari satu-dua orang yang mengatasnamakan rakyat," imbuh Max.

Sebelumnya, Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) tentang peluang parpol dan calon presiden di Pemilu 2014, mendapat hasil tak hanya elektabilitas Partai Demokrat yang turun tapi juga kandidat capres konvensi juga ikut turun.

Berdasarkan hasil survei LSI diketahui elektabilitas Partai Demokrat terus merosot hingga dibawah 5 persen yakni mencapai 4,7 persen.

Tidak hanya elektabilitas partainya saja yang turun, hal yang sama juga terjadi pada tak populer dan lemahnya elektabilitas para kandidat capres konvensi.

"Para capres Demokrat hanya memperoleh dukungan dibawah 5 persen jika disandingkan dengan capres partai lain," kata Peneliti LSI, Adjie Alfaraby. (Ferdinand Waskita)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×