Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dunia usaha menaruh harapan besar pada target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 untuk mengerek kembali penyerapan tenaga kerja di sektor formal yang tengah mengalami defisit. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat struktur pasar kerja nasional yang kini kian didominasi sektor informal.
Ketua Komite Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Subchan Gatot menyatakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi yang dipatok pada angka 5,4% diharapkan menjadi fondasi bagi perluasan lapangan kerja.
"Kalau melihat proyeksi pertumbuhan 5,4% harapannya memberikan dasar yang kuat untuk peningkatan penyerapan tenaga kerja formal terutama di sektor jasa, teknologi, manufaktur bernilai tambah, ekonomi kreatif dan jasa modern," ujarnya kepada Kontan, Senin (2/2).
Baca Juga: Red Notice Muhammad Riza Chalid Terbit, Polri Klaim Tim Sudah di Luar Negeri
Subchan menilai stabilitas pertumbuhan ekonomi menjadi kunci utama bagi para pelaku usaha untuk melakukan ekspansi dan membuka posisi baru. Ia berharap geliat ekonomi tahun ini mampu memberikan kepastian bagi industri untuk menyerap angkatan kerja di jalur resmi.
"Saya berharap pertumbuhan ekonomi bisa tetap stabil bisa mendorong penciptaan lapangan kerja baru terutama di sektor formal," imbuhnya.
Untuk diketahui, berdasarkan laporan terbaru Mandiri Institute, perlambatan konsumsi masyarakat saat ini tidak bisa dilepaskan dari kian terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal di tanah air.
Mandiri Institute mencatat adanya ketimpangan antara pasokan tenaga kerja dengan ketersediaan posisi di sektor formal. Hal ini menyebabkan defisit pasar kerja yang berujung pada migrasi besar-besaran tenaga kerja ke sektor informal yang memiliki pendapatan tidak menentu.
"Penurunan pasar kerja menjadi constraint (kendala) utama. Perlambatan konsumsi tidak terlepas dari masalah struktural di pasar kerja Indonesia, yakni semakin terbatasnya penciptaan lapangan kerja. Kemampuan serapan pasar kerja formal hanya 1,9 juta orang per tahun di 2025, jauh lebih rendah dibanding kebutuhan yang mencapai 3,4 juta orang per tahun," tulis laporan Mandiri Institute yang dikutip Senin (2/2).
Data tersebut menunjukkan bahwa tenaga kerja yang tidak tertampung di sektor formal terpaksa mengadu nasib di sektor informal dengan rata-rata mencapai 1,5 juta orang per tahun. Mandiri Institute melihat tren defisit pasar kerja formal ini belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Selanjutnya: Red Notice Muhammad Riza Chalid Terbit, Polri Klaim Tim Sudah di Luar Negeri
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Selasa 3 Februari 2026, Kendalikan Emosi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













