kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   20.000   0,78%
  • USD/IDR 18.190   5,00   0,03%
  • IDX 5.201   -65,55   -1,24%
  • KOMPAS100 673   -9,64   -1,41%
  • LQ45 528   -5,10   -0,96%
  • ISSI 175   -3,73   -2,08%
  • IDX30 297   -3,06   -1,02%
  • IDXHIDIV20 396   -3,35   -0,84%
  • IDX80 78   -1,10   -1,40%
  • IDXV30 110   -1,60   -1,44%
  • IDXQ30 100   -0,84   -0,83%

Defisit APBD 2022 maksimal 0,32%, ini kata ekonom


Rabu, 08 September 2021 / 17:11 WIB
ILUSTRASI. Sebuah truk melintas di depan peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (22/7/2021). Defisit APBD 2022 maksimal 0,32%, ini kata ekonom.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui PMK 117/2021 mematok batas maksimal kumulatif defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2022 sebesar 0,32% dari proyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) 2022.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyarankan, batas maksimal defisit daerah tersebut baiknya diperkecil lagi. Hal tersebut dikarenakan belanja pemerintah Daerah (Pemda) yang masih banyak dan belum fokus pada belanja produktif.

“Selain itu, belanja pegawai dan belanja barang di Pemerintah Daerah cukup tinggi, bahkan ada daerah yang porsi belanja pegawai di atas 30% hingga 40% dari total APBD,” ujar Bhima kepada Kontan.co.id, Rabu (8/9).

Dia juga menilai, serapan anggaran pemerintah Daerah belum optimal dengan banyaknya dana diparkir di perbankan daerah. Bhima menyarankan sebaiknya dilakukan disiplin fiskal terlebih dulu, guna mengurangi belanja birokrasi dan fokus pada belanja modal sehingga batasan defisitnya tidak terlalu lebar.

Sebagai informasi, simpanan Pemerintah Daerah di perbankan daerah yang paling tinggi ada di Provinsi Jawa Timur, kemudian diikuti Jawa Tengah, Jawa Barat, Papua, Aceh, Sumatra Utara dan Kalimantan Timur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×