Reporter: Hervin Jumar, Leni Wandira | Editor: Noverius Laoli
Meski membuka peluang penguatan rantai pasok protein, investasi Danantara ini belum serta-merta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor daging.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai manfaat utama kerja sama tersebut saat ini lebih terlihat dari akses terhadap jaringan dan kemampuan operasional JBS, terutama di Australia dan Selandia Baru yang menjadi salah satu sumber pasokan daging sapi Indonesia.
Menurut Yusuf, arah investasi menjadi faktor penting dalam menentukan dampaknya terhadap industri daging domestik.
Baca Juga: Daikin Melibatkan UMKM dalam Rantai Pasok, TKDN AC Nusantara Prestige Tembus 60%
Jika dana lebih banyak digunakan untuk memperkuat rantai pasok dan bisnis JBS di luar negeri, manfaat langsung terhadap peningkatan produksi daging di Indonesia akan relatif terbatas.
Sebaliknya, dampaknya terhadap impor dapat lebih signifikan apabila perusahaan patungan tersebut mengarahkan investasi ke pengembangan produksi, pembiakan ternak, pengolahan, maupun infrastruktur rantai dingin di Indonesia.
Artinya, investasi Rp 44,75 triliun tersebut lebih dulu menjadi strategi Danantara untuk mengamankan posisi dalam rantai pasok protein global.
Tantangannya adalah memastikan ekspansi tersebut ikut menghasilkan kapasitas produksi dan pasokan daging yang lebih kuat di dalam negeri, sehingga tidak berhenti sebagai investasi pada jaringan pasokan global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
