Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Danantara melalui MIND ID berpotensi untuk mengakuisisi PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) yang tengah mengalami kesulitan keuangan.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, kondisi saat ini merupakan momentum yang tepat karena valuasi aset PT GNI sedang turun.
“Sekarang momentum yang tepat, valuasi aset smelter PT GNI sedang turun. Dulu nilai investasinya Rp 42,9 triliun, namun saat ini bisa lebih murah karena faktor kesulitan mendapatkan pasokan bijih nikel dan masalah keuangan di induk perusahaannya di China,” kata Bhima kepada Kontan, Kamis (27/2).
Menurut Bhima, dengan asset under management (AUM) sebesar US$ 900 miliar, Danantara dinilai mampu mengakuisisi PT GNI secara keseluruhan. Akuisisi ini, kata Bhima, murni bersifat bisnis ke bisnis (B2B) dan bukan merupakan pengambilalihan saham seperti yang terjadi pada Freeport.
Bhima menyebutkan akuisisi ini dapat memberikan berbagai manfaat bagi Indonesia. Pertama, langkah ini akan memperkuat rantai pasok industri nikel domestik, sehingga produk seperti feronikel dan Nickel Pig Iron (NPI) tidak harus berorientasi ekspor.
Baca Juga: Hashim Beberkan Danantara Berpotensi Biayai Proyek-proyek Ini
“Danantara melalui MIND ID bisa bekerja sama dengan Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk memperkuat hilirisasi dari smelter hingga produksi baterai kendaraan listrik (EV) dan baterai untuk penyimpanan energi terbarukan,” ujar Bhima.
Kedua, akuisisi PT GNI dapat menyelamatkan sekitar 10.000 pekerja dari potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Langkah ini menjadi bentuk perlindungan negara yang konkret sebelum menarik investasi baru yang tentunya membutuhkan waktu lebih lama.
Ketiga, akuisisi ini dapat memperbaiki tata kelola lingkungan di kawasan industri tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan manajemen limbah serta menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang digunakan di kawasan industri dengan sumber energi terbarukan.
Sebelumnya, PT GNI mengoperasikan proyek smelter pirometalurgi besar senilai US$3 miliar di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Proyek ini termasuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian No. 7/2021.
Namun, smelter milik Gunbuster ini dikabarkan telah memangkas produksinya secara signifikan dan hampir menghentikan operasionalnya. Hal ini terjadi hanya beberapa bulan setelah perusahaan induknya, Jiangsu Delong, mengalami gagal bayar utang.
Menurut laporan Bloomberg, Gunbuster mengalami kendala dalam pembayaran kepada pemasoknya, yang berdampak pada kesulitan memperoleh pasokan bijih nikel untuk diolah. Sejak awal tahun, perusahaan disebut telah menutup hampir seluruh jalur produksinya.
Baca Juga: Soal Pengawasan, Rosan Ungkap Danantara Bakal Diawasi KPK hingga PPATK
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengusulkan agar sebagian dana kelolaan Danantara dapat digunakan untuk membiayai investasi hilirisasi di Indonesia. Usulan tersebut telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.
“Kami mengajukan dalam berbagai kesempatan kepada Bapak Presiden agar meminta pertimbangan, untuk sebagian dana Danantara itu bisa diinvestasikan dalam rangka memberikan penciptaan nilai tambah di sektor hilirisasi,” ujar Bahlil dalam acara Indonesian Economic Summit 2025, Rabu (19/2).
Selanjutnya: Mudik Gratis 2025 dengan Pemprov DKI Jakarta, Ini Daerah Tujuan dan Syarat Daftar
Menarik Dibaca: iPhone 15 Turun Harga! Cek Harga Terbaru Sebelum Kehabisan!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News