Reporter: kompas.com | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menempatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai instrumen strategis baru dalam konsolidasi kekuatan ekonomi nasional.
Lembaga ini tidak sekadar sebagai pengelola aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN), juga untuk mendorong pertumbuhan berbasis investasi dan memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto membanggakan Badan Pengelola Investasi Danantara di hadapan para pemimpin dunia yang hadir dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Kamis (22/1)
Prabowo mengatakan, berkat Danantara dirinya bisa menjadi setara dengan para pemimpin dunia di forum internasional itu. "Dengan Danantara, saya dapat berdiri di hadapan Anda sebagai mitra yang setara," kata Prabowo dalam pidatonya dilihat dari YouTube Sekretariat Presiden.
Prabowo menjelaskan Danantara berarti energi untuk menggerakkan masa depan Indonesia. Danantara adalah dana kekayaan negara dengan aset kelolaan sebesar 1 triliun dolar Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Prabowo Tegaskan Danantara Siap Jadi Mitra Strategis Investasi Global di WEF 2026
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menjelaskan, nama Danantara diberikan langsung oleh Presiden, artinya energi masa depan Indonesia.
"Ini bukan sekadar penyehatan BUMN, melainkan upaya mengonsolidasi seluruh aset dan kekuatan pendapatan negara untuk menumbuhkan perekonomian,” ujarnya, dalam keterangan resmi, Kamis (22/1).
Melalui konsolidasi aset BUMN yang diperkirakansekitar US$ 1 triliun, Indonesia kini secara de facto masuk dalam jajaran lima besar pengelola dana abadi alias sovereign wealth fund (SWF) dunia. Indonesia sejajar dengan pemain global seperti Norwegia, China Investment Corporation (CIC), Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), dan Safe Investment Center.
"Presiden ingin Indonesia lebih tinggi dari Temasek. Secara angka konsolidasi sudah tercapai, tetapi dampak ekonominya tentu membutuhkan waktu karena membangun investment vehicle sebesar ini bukan hal yang mudah,” lanjut Anggito.
Danantara ditargetkan menjadi pengungkit untuk meningkatkan rasio investasi nasional hingga 40% serta menjaga kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) di kisaran 25% guna menahan laju deindustrialisasi.
Berbeda dari SWF konvensional yang mengelola surplus komoditas, Danantara menggunakan aset BUMN sebagai leverage untuk menarik dana segar dari investor global.
"Saat ini portofolio proyek sedang disiapkan untuk ditawarkan kepada investor dari Amerika Serikat hingga Timur Tengah. Hasil signifikan diperkirakan baru akan terlihat pada tahun 2028 saat proyek-proyek mulai berjalan,” jelas Anggito.
Danantara telah mulai mengelola 17 proyek energi terbarukan yang diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru. Dalam setiap skema investasi, pemerintah menegaskan prinsip kedaulatan dengan mempertahankan kepemilikan mayoritas sebesar 51% agar kendali strategis tetap berada di tangan Indonesia dan manfaat investasi dapat dirasakan hingga ke daerah.
Meski demikian, Anggito mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak ringan. Penguatan tata kelola, kualitas sumber daya manusia, serta jejaring global menjadi faktor kunci keberhasilan Danantara.
“Ini adalah titik terang dalam ekonomi kita, sebuah investment-led growth. Namun prosesnya panjang dan membutuhkan kehati-hatian agar manfaatnya benar-benar optimal,” lanjut Anggito. .
Selanjutnya: Mau Bangun Rusun Subsidi di Meikarta, Menteri PKP Ungkap Kantongi Restu Dedy Mulyadi
Menarik Dibaca: Level Turun ke Siaga, Ini Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (24/1) Jabodetabek
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













