Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arus dana asing ke pasar keuangan Indonesia masih berpeluang berlanjut meski imbal hasil atau yield instrumen rupiah mulai turun. Stabilitas rupiah menjadi kunci yang membuat aset domestik tetap menarik di mata investor global.
Investor asing mencatat inflow Rp 21,03 triliun ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp 70,39 triliun ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sepanjang Juni 2026. Di pasar saham, asing justru membukukan net sell sebesar Rp 19,63 triliun.
Derasnya dana masuk tersebut terjadi setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate hingga 5,75%, sehingga aset berbasis rupiah menawarkan imbal hasil yang kompetitif.
Namun, daya tarik tersebut kini tidak hanya ditentukan oleh besarnya yield. Memasuki Agustus 2026, imbal hasil SBN dan SRBI mulai melandai.
Baca Juga: Yield Melandai, Dana Asing Tetap Masuk
Pada 21 Agustus 2026, yield SBN tenor 10 tahun turun 5,7 basis poin menjadi 6,96%. Sementara itu, yield SRBI hasil lelang berada di 7,06% untuk tenor enam bulan, 7,21% untuk tenor sembilan bulan, dan 7,37% untuk tenor 12 bulan.
Meski yield turun, investor asing belum menunjukkan tanda-tanda menarik dana dari aset rupiah. Pelaksana tugas Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan arus masuk asing justru masih berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
"Yield SRBI terus turun, tetapi inflow tetap masuk," kata Destry dalam konferensi pers hasil RDG BI, Rabu (19/8).
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menjelaskan, investor asing tidak hanya melihat tingkat yield nominal. Mereka juga menghitung potensi keuntungan setelah memperhitungkan pergerakan rupiah serta biaya lindung nilai.
Karena itu, selama rupiah relatif stabil, penurunan imbal hasil belum tentu membuat aset Indonesia kehilangan daya tarik.
Baca Juga: Risiko Investasi Masih Tinggi, Dana Asing Mulai Tinggalkan Pasar Emerging Market
Hal tersebut tercermin dari kepemilikan asing di SBN yang meningkat dari sekitar Rp 892 triliun pada akhir Juli menjadi Rp 909 triliun per 20 Agustus 2026.
"SRBI tetap menarik meskipun yield-nya menurun," ujar Josua.
Chief Economist Citibank Indonesia Helmi Arman menilai, kondisi global dan domestik saat ini juga lebih mendukung dibandingkan kuartal sebelumnya.
Penurunan harga minyak, potensi pelemahan dolar AS, serta peluang penurunan suku bunga The Fed dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah.
Di sisi eksternal, Citi memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia dapat menyempit menjadi sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada semester II-2026.
Baca Juga: Menilik Kinerja Emiten yang Catat Net Buy Saat Dana Asing Keluar dari Pasar Saham
Dengan demikian, alasan dana asing masih mengalir ke Indonesia bukan semata-mata karena yield yang tinggi. Investor juga melihat stabilitas rupiah, selisih imbal hasil dengan aset AS, biaya lindung nilai, serta membaiknya risiko eksternal dan domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














