CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.604.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.627   61,00   0,35%
  • IDX 6.541   -47,96   -0,73%
  • KOMPAS100 858   -8,05   -0,93%
  • LQ45 650   -6,26   -0,95%
  • ISSI 227   -3,10   -1,35%
  • IDX30 361   -3,60   -0,99%
  • IDXHIDIV20 450   -2,93   -0,65%
  • IDX80 98   -0,98   -0,99%
  • IDXV30 125   -0,95   -0,75%
  • IDXQ30 116   -1,19   -1,02%

CT: Jika inflasinya berlebihan, baru intervensi


Rabu, 01 Oktober 2014 / 22:12 WIB
ILUSTRASI. 4 Tanda Micellar Water Tidak Cocok untuk Kulit.


Sumber: Kompas.com | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung (CT) memandang, belum tentu diperlukan intervensi pasar oleh Perum Bulog pada Oktober 2014, meskipun sudah terjadi kenaikan harga gabah kering panen (GKP) sebesar 2,69%.

"Belum (tentu Oktober). Artinya gini, kalau nanti implikasi terhadap inflasinya berlebihan, baru kita intervensi. Kalau belum terlalu berlebihan terhadap inflasi, kita enggak perlu melakukan intervensi. Karena kasihan petaninya," kata dia di Jakarta, Rabu (1/10).

CT menuturkan, kenaikan harga beras dalam taraf wajar akan membantu meningkatkan kesejateraan petani. Sebab, kenaikan harga beras membuat pendapatan petani meningkat. Namun di sisi lain, dia bilang pemerintah memang ingin agar inflasi tetap terkendali. Pemerintah juga ingin menaikkan kesejateraan petani secara gradual, namun pasti.

"Dan jangan lupa, kontribusi pekerja kita dari sektor pertanian itu masih sangat banyak," tutur CT.

Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, secara historis Perum Bulog biasanya melakukan intervensi pasar ketika kenaikan GKP sudah mendekati 3%.

Namun, menurut CT, kenaikan GKP di bulan September 2014 masih dalam taraf aman, dan tidak mengerek inflasi besar-besaran. "So far, kami melihatnya tidak one by one sector. Kami melihatnya dari inflasi secara keseluruhan. So far, saya happy dengan hasil yang ada," tukas CT. (Estu Suryowati)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×