kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Chatib Basri wanti-wanti pola pemulihan ekonomi Indonesia bisa U-shaped


Selasa, 08 September 2020 / 12:06 WIB
ILUSTRASI. Menteri Keuangan M Chatib Basri memberikan keterangan mengenai evaluasi perkembangan perekonomian global dan domestik 2013, serta kinerja realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2013 di Jakarta, Senin (6/1). Kompas/Priyombodo (PRI) 06-0


Reporter: Bidara Pink | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setiap negara di dunia pasti ingin segera pulih dari dampak Covid-19. Namun, pola pemulihan masing-masing negara pasti berbeda-beda.

Menteri Keuangan periode 2013 - 2014 Chatib Basri  pun meneropong kalau pola pemulihan ekonomi Indonesia dari Covid-19 berpotensi U-shaped.

Chatib Basri bilang, memang dari sejumlah data menunjukkan kalau pemulihan sudah mulai terjadi, seperti data dari Badan Pusat Statistik (BPS) maupun indikator seperti indeks manufaktur.

Tetapi, masih ada beberapa indikator yang menunjukkan kalau pemulihan masih flat bahkan cenderung menurun.

Baca Juga: Tips melawan resesi: Siapkan dana darurat hingga bangun bisnis sampingan

"Dari data BPS Juni kita melihat beberapa indikator setelah re-opening naik. Juli dan Agustus juga PMI Manufaktur kita naik. Tapi, indeks penjualan ritel masih flat. Pergerakan manusia dari google mobility juga flat dan bahkan declined," katanya, Selasa (8/9).

Chatib Basri pun memetakan penyebab pemulihan ekonomi Indonesia bisa U-shaped. Pertama, adanya fator eksternal terkait dengan perekonomian global yang masih belum membaik.

Ia mengambil contoh negara China yang meski mereka sudah mulai menunjukkan aktivitas perekonomian, tetapi belum pulih sepenuhnya. Padahal, seperti yang kita tahu, China merupakan negara tujuan ekspor terbesar Indonesia.

"China itu sekitar 40% dari ekspor kita, basic-nya batubara dan palm oil ke China. Jadi, kita sangat bergantung dengan permintaan yang datang dari China," tambahnya.

Kedua, masalah datang dari daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga. Daya beli masyarakat masih rendah dan konsumsi rumah tangga pun juga masih tersendat.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×