kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.806.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.585   -5,00   -0,03%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Celios: Lebaran 2025 Hasilkan PDB Rp140,7 Triliun, Turun 16,5% Dibanding Tahun 2024


Sabtu, 29 Maret 2025 / 15:55 WIB
Celios: Lebaran 2025 Hasilkan PDB Rp140,7 Triliun, Turun 16,5% Dibanding Tahun 2024
ILUSTRASI. Pengunjung memilih produk di gerai ritel busana di Bekasi, Jawa Barat, Minggu (2/3/2025). Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menargetkan pertumbuhan signifikan pada sektor ritel selama Ramadan dan Lebaran tahun ini. Momentum tersebut diharapkan dapat menyumbang kenaikan 30-50%, terutama di sektor fashion dan food & beverage (F&B). (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Center of Economic and Law Studies (Celios) memprediksi bahwa tambahan produk domestik bruto (PDB) dari momentum Lebaran tahun ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun 2024.

Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira memproyeksikan bahwa dampak PDB dari momentum Lebaran 2025 hanya mencapai Rp140,74 triliun, turun 16,5% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp168,55 triliun.

“Berdasarkan pemodelan yang dilakukan Celios pada tahun 2024, tambahan PDB akibat adanya momen Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri mencapai Rp168,55 triliun. Sedangkan pada 2025, angkanya diperkirakan hanya Rp140,74 triliun atau turun 16,5%,” ujar Bhima dalam keterangannya, Sabtu (29/3).

Baca Juga: Menteri Agama Prediksi Lebaran Hari Raya Idulfitri 1446 H Jatuh pada 31 Maret 2025

Selain itu, keuntungan pengusaha selama periode libur Lebaran 2025 juga mengalami penurunan signifikan.

Keuntungan tersebut diperkirakan hanya mencapai Rp84,19 triliun, lebih rendah dibandingkan tambahan pendapatan tahun lalu yang mencapai Rp100,83 triliun.

Daya Beli Masyarakat Melemah

Menurut Bhima, penurunan ini berkorelasi dengan melemahnya daya beli masyarakat yang sudah terjadi sejak awal tahun 2025.

Salah satu indikator yang mencerminkan pelemahan daya beli ini adalah menurunnya porsi simpanan perorangan yang kini hanya mencapai 46,4% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK).

Baca Juga: KCIC Prediksi Jumlah Penumpang Whoosh Capai 24.000 Per Hari di Periode Mudik Lebaran

“Hal ini belum pernah terjadi pada pemerintahan sebelumnya,” ujar Bhima.

Ia mencontohkan bahwa pada awal periode pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) – Jusuf Kalla (JK), porsi simpanan perorangan mencapai 58,5%, sedangkan pada periode Jokowi – Ma’ruf Amin sebesar 57,4%.

Celios berpendapat bahwa merosotnya porsi tabungan perorangan menandakan masyarakat cenderung bertahan hidup dengan menguras simpanan mereka.

Hal ini disebabkan oleh upah riil yang terlalu kecil, berkurangnya tunjangan, serta ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masih berlanjut.

Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Melambat

Dengan berbagai indikator ekonomi tersebut, Celios memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2025 hanya akan mencapai 5,03% (year-on-year/YoY), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan I tahun 2024 yang mencapai 5,11%.

Perkiraan ini telah mempertimbangkan dampak dari momentum Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri yang secara siklus mendorong konsumsi rumah tangga lebih tinggi dibandingkan triwulan IV tahun 2024.

Baca Juga: Apresiasi Menjelang Lebaran dari Pertamina: Harga BBM Non-Subsidi Turun

Namun, Bhima menilai bahwa faktor musiman ini, termasuk pembagian tunjangan hari raya (THR), tetap tidak cukup untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

“Bahkan, ada kekhawatiran bahwa ekonomi bakal melambat pasca-Lebaran, karena tidak ada lagi motor penggerak konsumsi yang signifikan,” tambahnya.

Selain itu, efisiensi besar-besaran dalam belanja pemerintah juga mempengaruhi tingkat kepercayaan konsumen. Pelemahan nilai tukar rupiah semakin menambah kehati-hatian masyarakat dalam membelanjakan uangnya.

“Belanja pemerintah yang sedang mengalami efisiensi besar-besaran juga berpengaruh terhadap consumer confidence. Pelemahan kurs rupiah pun turut membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya,” tutup Bhima.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×