kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

BSSN Catat 5,5 Miliar Serangan Siber, Industri RI Hadapi Ancaman AI hingga Ransomware


Jumat, 19 Juni 2026 / 19:22 WIB
BSSN Catat 5,5 Miliar Serangan Siber, Industri RI Hadapi Ancaman AI hingga Ransomware
ILUSTRASI. ilustrasi cyber attack crime serangan siber ransomware wannacry ( REUTERS/KACPER PEMPEL)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ancaman siber terhadap pelaku usaha di Indonesia masih menunjukkan tren peningkatan. Kebocoran data dan serangan ransomware disebut masih menjadi dua ancaman utama yang membayangi berbagai sektor industri, mulai dari perbankan, manufaktur hingga layanan kesehatan.

Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia Adithya Nugraputra mengatakan, berdasarkan pemantauan perusahaan terhadap berbagai organisasi di Indonesia, kasus kebocoran data masih menjadi insiden yang paling sering ditemukan. Selain itu, serangan ransomware juga tetap marak dan tidak lagi hanya menyasar sektor keuangan.

"Data bocor masih tinggi. Ransomware juga tetap ada, bukan hanya bank, tetapi rumah sakit, manufaktur maupun sektor lainnya," ujarnya kepada media di Jakarta, Kamis (19/6).

Menurut Adithya, tren ancaman siber pada tahun ini diperkirakan masih serupa dengan tahun sebelumnya. Namun, penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) oleh pelaku serangan mulai menjadi faktor yang semakin menonjol.

Baca Juga: 110.980 Tasreh Terbit, Semua Jemaah Haji Gelombang II Berkesempatan Masuk Raudhah

Ia menjelaskan, AI kini dimanfaatkan peretas untuk menemukan celah keamanan dan mempercepat proses serangan. Kondisi tersebut membuat pelaku serangan memiliki kemampuan bergerak lebih cepat dibandingkan organisasi yang berupaya mempertahankan sistem keamanannya.

Selain kebocoran data dan ransomware, aktivitas kelompok hacktivist juga masih cukup tinggi di Indonesia. Kelompok ini umumnya bergerak berdasarkan kepentingan ideologi tertentu dan kerap memanfaatkan isu-isu global untuk melancarkan serangan terhadap target yang dianggap berseberangan dengan pandangan mereka.

Temuan tersebut sejalan dengan laporan Ensign Cyber Threat Landscape 2025 yang menunjukkan berkembangnya ekonomi bawah tanah siber di kawasan Asia Pasifik. 

Dalam laporan tersebut, kelompok ransomware, Initial Access Broker (IAB), dan hacktivist disebut semakin sering beroperasi secara terkoordinasi sehingga menghasilkan serangan yang lebih kompleks dan berdampak besar.

Laporan yang sama menyoroti pentingnya kesiapan organisasi dalam menghadapi insiden siber. Ensign menilai banyak perusahaan masih berfokus pada dokumen dan prosedur, namun belum cukup melakukan simulasi penanganan krisis secara nyata.

Di sisi lain, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat terdapat sekitar 5,5 miliar serangan siber yang terdeteksi sepanjang 2025 dan jumlah tersebut diperkirakan masih akan meningkat pada tahun ini.

Adithya menilai kesadaran perusahaan terhadap pentingnya keamanan siber sebenarnya terus meningkat. Namun, realisasi investasi keamanan siber masih belum secepat peningkatan kesadaran tersebut.

Menurut dia, banyak perusahaan masih menghadapi dilema antara kebutuhan menjaga efisiensi bisnis dan peningkatan anggaran keamanan digital. Akibatnya, terdapat kesenjangan antara tingkat kesadaran dan kesiapan menghadapi serangan siber.

"Kami melihat awareness sudah meningkat. Tetapi investasi dan implementasinya masih bertahap karena perusahaan tetap harus fokus menjaga pertumbuhan bisnis," katanya.

Kondisi tersebut juga terjadi di sektor perbankan yang selama ini dikenal memiliki anggaran teknologi informasi relatif besar. Meski demikian, bank tetap menjadi target utama serangan siber karena memiliki reputasi tinggi dan basis pengguna yang besar.

Adithya menambahkan, keberhasilan serangan siber tidak selalu disebabkan lemahnya teknologi. Banyak insiden justru berawal dari faktor manusia, keterlambatan pembaruan sistem, hingga kurang disiplin dalam menjalankan prosedur keamanan yang bersifat rutin.

Untuk meningkatkan kesiapan organisasi, Ensign meluncurkan program simulasi krisis siber bertajuk "From Threat to Action: Cyber Simulation Experience". Program tersebut dirancang untuk melatih para pemimpin perusahaan mengambil keputusan saat menghadapi insiden siber, termasuk aspek teknis, komunikasi, kepatuhan regulator hingga keberlangsungan bisnis.

Baca Juga: MotoGP Mandalika 2026 Digelar Oktober, Pemerintah Bidik Efek Ekonomi Lebih Besar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×