kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

BPS: Harga pertamax Rp 8.000 lebih, inflasi makin besar


Rabu, 09 Maret 2011 / 10:01 WIB
ILUSTRASI. Rokok Gudang Garam (GGRM). KONTAN/Cheppy A. Muchlis/20/06/2019


Reporter: Irma Yani | Editor: Edy Can

JAKARTA. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis pertamax lebih dari Rp 8.000 berpotensi menyumbang inflasi. Dia meminta pemerintah segera mengantisipasi kenaikan harga pertamax tersebut.

"Tentu kalau pertamax lebih besar dari harga sekarang Rp 8.800 per liter, itu akan menimbulkan inflasi besar," ucapnya, saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Rabu (9/3).

Menurut Rusman, jika harga pertamax terlalu tinggi maka orang akan beralih ke premium yang harganya lebih murah. Nah, menurutnya, perpindahan ini bakal menimbulkan tekanan inflasi.

Namun, ia mengaku belum bisa memaparkan berapa besar perkiraan sumbangsihnya terhadap inflasi." Tapi kita lihat dulu, saya belum punya hitungannya," tandasnya.

Per 1 Maret lalu, harga pertamax sudah sebesar Rp 8.100 per liter. Sebelumnya, tim akademis pengkaji dampak pembatasan bahan bakar minyak (BBM) subsidi menyarankan, pemerintah menahan harga pertamax pada level Rp 8.000 per liter.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×