kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.606.000   -27.000   -1,03%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Bos Apindo Ungkap Alasan Pengusaha Tahan Investasi di Tengah Ketidakpastian


Jumat, 17 Juli 2026 / 20:28 WIB
Bos Apindo Ungkap Alasan Pengusaha Tahan Investasi di Tengah Ketidakpastian
ILUSTRASI. Ketua Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan pelaku usaha domestik saat ini cenderung mengambil pendekatan investasi yang lebih selektif dan prudent. (Dok/Kadin Indonesia)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan pelaku usaha domestik saat ini cenderung mengambil pendekatan investasi yang lebih selektif dan prudent.

Di tengah tingginya ketidakpastian global serta tantangan struktural di dalam negeri, perusahaan memilih mengoptimalkan kapasitas produksi yang ada sebelum memutuskan melakukan ekspansi investasi baru.

Menurut Shinta, keputusan tersebut tidak terlepas dari tekanan eksternal yang terus berdatangan, mulai dari dinamika geopolitik global, perdagangan internasional, energi, hingga volatilitas nilai tukar. Tekanan tersebut kemudian memberikan efek berantai terhadap biaya usaha secara keseluruhan.

"Namun demikian, kami juga melihat bahwa dunia usaha domestik saat ini memang cenderung mengambil pendekatan investasi yang lebih selektif dan prudent. Gelombang tekanan eksternal terus datang dari dinamika geopolitik global. Tantangannya adalah multiplier effect terhadap keseluruhan biaya usaha," ujar Shinta kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).

Di sisi domestik, lanjut Shinta, dunia usaha masih menghadapi berbagai persoalan struktural berupa high-cost economy. Kondisi tersebut membuat sebagian perusahaan memilih menahan ekspansi dan lebih fokus meningkatkan utilisasi kapasitas produksi yang sudah tersedia.

Baca Juga: Prabowo Segera Launching Motor Listrik Nasional, Dukung Industri Dalam Negeri

"Dalam kondisi seperti ini, wajar apabila sebagian pelaku usaha memilih mengoptimalkan utilisasi kapasitas yang ada terlebih dahulu sebelum memutuskan melakukan ekspansi investasi yang lebih besar," katanya.

Sikap hati-hati pelaku usaha tersebut tercermin dari perlambatan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan realisasi PMDN pada kuartal II-2026 mencapai Rp 254,1 triliun, atau setara 49,6% dari total investasi nasional sebesar Rp 511,8 triliun.

Nilai tersebut turun 7,8% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 275,5 triliun. Secara kumulatif, realisasi PMDN sepanjang semester I-2026 mencapai Rp 502,9 triliun, turun 1,5% yoy dibandingkan semester I-2025 sebesar Rp 510,3 triliun. Kontribusi PMDN terhadap total investasi nasional juga turun menjadi 49,8%, dari 54,1% pada periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, Shinta mengingatkan agar pelemahan PMDN tidak hanya dilihat dari perbandingan tahunan. Menurutnya, secara kuartalan investasi domestik masih menunjukkan pertumbuhan.

Realisasi PMDN pada kuartal II-2026 meningkat sekitar 2,1% dibandingkan kuartal I-2026 sebesar Rp 248,8 triliun. Bahkan, dibandingkan kuartal IV-2025 sebesar Rp 240,6 triliun, PMDN masih tumbuh sekitar 5,6%.

"Artinya, aktivitas investasi domestik belum berhenti, tetapi momentumnya memang belum kembali sekuat pertengahan tahun lalu," ujar Shinta.

Baca Juga: Investasi Domestik Masih Lesu, Pelaku Usaha Tahan Ekspansi pada 2026

Menurutnya, perlambatan secara tahunan juga dipengaruhi oleh high base effect. Pada kuartal II hingga kuartal III-2025, investasi domestik sempat mengalami lonjakan sehingga kontribusi PMDN terhadap total investasi nasional mencapai kisaran 56%-57%.

"Momentum tersebut menjadi basis pembanding yang relatif tinggi sehingga secara statistik kinerja tahun ini terlihat mengalami kontraksi," jelasnya.

Di sisi lain, Shinta menilai pelemahan kontribusi PMDN juga dipengaruhi mulai pulihnya investasi asing. Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada kuartal II-2026 mencapai Rp 257,7 triliun, tumbuh 27,4% yoy. Secara kumulatif, PMA pada semester I-2026 juga meningkat 17,3% yoy.

"Hal ini menunjukkan bahwa perlambatan kontribusi PMDN tidak semata-mata mencerminkan penurunan aktivitas investasi secara keseluruhan," katanya.

Sektor Riil Mulai Menunjukkan Perlambatan

Shinta mengatakan, faktor yang memengaruhi keputusan investasi saat ini tidak hanya berasal dari satu sisi, melainkan merupakan kombinasi antara pelemahan permintaan, meningkatnya biaya usaha, dan tingginya ketidakpastian global.

Menurutnya, ketidakpastian telah menjadi the new normal bagi dunia usaha. Sementara dari sisi domestik, persoalan struktural seperti tingginya biaya logistik, biaya pembiayaan yang belum kompetitif, kenaikan harga energi dan bahan baku, serta ketidakpastian regulasi masih menjadi tantangan yang perlu dibenahi.

"Seluruh faktor tersebut pada akhirnya meningkatkan cost of doing business dan memengaruhi perhitungan kelayakan investasi maupun tingkat pengembalian investasi," ujarnya.

Baca Juga: Prabowo: TNI dan Polri Anak Kandung Rakyat

Sinyal perlambatan sektor riil juga semakin terlihat memasuki triwulan II-2026. Hal tersebut tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang terus menurun setelah sempat berada di atas level 53 pada awal tahun.

Pada Juni 2026, PMI manufaktur berada di level 46,9, menunjukkan kontraksi aktivitas manufaktur terdalam dan menjadi level terendah sejak Juni 2025.

Tren serupa juga terlihat pada Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang turun menjadi 52,90 pada Juni 2026 dari 54,12 pada Januari. Dari sisi konsumsi, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga menurun dari 127 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni 2026.

"Perkembangan indikator-indikator tersebut menunjukkan bahwa baik sisi produksi maupun permintaan sedang menghadapi fase moderasi," jelas Shinta.

Kepastian Regulasi Jadi Kunci Pemulihan Investasi

Ke depan, Shinta memperkirakan pendekatan investasi dunia usaha masih akan bersifat selektif dan prudent selama ketidakpastian global belum mereda.

Menurutnya, pemulihan investasi domestik sangat bergantung pada kemampuan Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus memperkuat kepastian regulasi dan implementasi kebijakan.

Baca Juga: Sektor Usaha Domestik Hadapi Tantangan, Kontraksi PMDN Diproyeksi Berlanjut

"Bagi dunia usaha, momentum investasi ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus memperkuat kepastian kebijakan," katanya.

Ia menambahkan, kepastian regulasi, konsistensi implementasi kebijakan, dan perbaikan iklim usaha dapat menjadi competitive advantage Indonesia untuk mendorong dunia usaha kembali meningkatkan ekspansi investasi.

"Semakin tinggi tingkat kepastian berusaha, semakin besar pula ruang bagi pelaku usaha domestik untuk kembali melakukan investasi secara lebih agresif dan berkelanjutan," pungkas Shinta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×