kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

BI diminta perkokoh exit strategy burden sharing untuk tekan risiko


Selasa, 04 Agustus 2020 / 21:42 WIB
ILUSTRASI. Bank Indonesia's logo is seen at Bank Indonesia headquarters in Jakarta, Indonesia, January 17, 2019. REUTERS/Willy Kurniawan


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Skema pembagian beban (burden sharing) yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Keuangan) memang banyak mendulang peringatan waspada dari banyak pihak, termasuk menggerus kepercayaan investor dan membuat keluarnya modal asing dari Indonesia.  

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pun memandang penting kalau BI dan Kemenkeu perlu punya langkah-langkah keluar (exit strategy) untuk meminimalkan risiko-risiko tersebut.

Baca Juga: LPEM FEB UI: Monetisasi utang BI tak bisa ungkit inflasi di kondisi ekonomi saat ini

"Meski BI telah menyebutkan bahwa mereka memiliki strategi keluar yang kuat, pasar masih membutuhkan kepastian terhadap rencana ini," ucap ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam asesmen yang diterima Kontan.co.id, Selasa (4/8).

Salah satu rencana exit strategy yang direncanakan adalah penetapan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) yang lebih tinggi. Menurut Riefky, ini bisa memengaruhi persepsi investor terhadap pasar.

Untuk itu, BI lebih baik membuat exit strategy yang memprioritaskan peran utama bank sentral, yaitu peran stabilisasi nilai tukar rupiah. Exit strategy yang lebih berhati-hati ini diharapkan mampu menjaga BI dari risiko eksternal dan tekanan domestik.

Baca Juga: Tren suku bunga turun, prospek reksadana pendapatan tetap makin cerah

"Bagaimanapun, jika BI dan Kemenkeu mampu mengelola kepercayaan pasar terhadap implementasi burden sharing, rencana ini tidak akan membahayakan stabilitas makroekonomi, justru dapat mendukung pertumbuhan ekonomi," jelas Riefky.




TERBARU

[X]
×