Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 diproyeksikan melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Perlambatan ini terutama dipengaruhi oleh moderasi pertumbuhan konsumsi atau belanja pemerintah dan investasi di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih merata.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,23% secara tahunan atau year on year (yoy) pada kuartal III-2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 yang mencapai 5,29% yoy.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 diperkirakan mencapai 5,23% yoy, sedikit melambat dibandingkan 5,29% pada triwulan II 2026. Meskipun demikian, perlambatan tersebut relatif terbatas dan belum menunjukkan pelemahan aktivitas ekonomi secara menyeluruh," ujar Josua kepada Kontan, Selasa (3/11/2026).
Baca Juga: Ada Pengerahan Besar Prajurit ke Jakarta, Ini Penjelasan Resmi TNI
Menurut Josua, perlambatan pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh melambatnya konsumsi pemerintah dan realisasi investasi pada kuartal III-2026.
Ia memperkirakan konsumsi rumah tangga tumbuh sekitar 5,13% yoy, sedikit meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 5,06% yoy. Sebaliknya, konsumsi pemerintah diproyeksikan melambat menjadi 9,98% yoy dari sebelumnya 15,97% yoy.
Sementara itu, pertumbuhan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) diperkirakan melandai menjadi 5,59% yoy dari 6,87% yoy pada kuartal II-2026.
Perkembangan sejumlah indikator kegiatan usaha juga menunjukkan adanya moderasi aktivitas ekonomi. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha turun dari 12,97% pada kuartal II-2026 menjadi 11,46% pada kuartal III-2026. Adapun tingkat utilisasi kapasitas produksi relatif stagnan di kisaran 73,75%.
Meski demikian, aktivitas manufaktur justru menunjukkan perbaikan. Hal ini tercermin dari peningkatan indeks manufaktur Bank Indonesia dari 51,43 menjadi 52,28.
"Dengan demikian, kami melihat perekonomian masih cukup tangguh untuk tumbuh di atas 5%, tetapi sumber pertumbuhannya semakin tidak merata," jelas Josua.
Ia menambahkan, aktivitas manufaktur, investasi pada sejumlah sektor, serta belanja pemerintah masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Namun, permintaan masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah, belum menunjukkan pemulihan yang sama kuatnya.
Baca Juga: BNPB Catat 864 Titik Api, Kebakaran Lahan Meluas di Kalteng dan Sumsel
Dari sisi produksi, industri pengolahan mencatatkan perbaikan, terutama pada industri makanan dan minuman, logam dasar, bahan bangunan, serta sejumlah industri pengolahan lainnya.
Selain itu, pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai 13,26% yoy pada September 2026 menunjukkan pembiayaan sektor riil masih berjalan, khususnya untuk kebutuhan modal kerja dan investasi.
Dukungan terhadap pertumbuhan juga berasal dari realisasi investasi sepanjang kuartal III-2026 yang mencapai sekitar Rp 528,7 triliun. Sementara itu, belanja negara secara kumulatif hingga September tumbuh 19% yoy, sehingga turut menopang pembangunan infrastruktur, aktivitas konstruksi, dan kegiatan ekonomi di daerah.
Dari sektor eksternal, ekspor barang pada September 2026 meningkat 11,87% yoy. Namun, impor tumbuh lebih tinggi sebesar 18,41% yoy.
Menurut Josua, kenaikan ekspor tidak serta-merta meningkatkan kontribusi perdagangan luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebab, sebagian peningkatan perdagangan turut dipengaruhi oleh harga komoditas dan kebutuhan impor.
Di sisi lain, sejumlah faktor masih menahan laju pertumbuhan ekonomi. Di antaranya pelemahan daya beli sebagian masyarakat, moderasi aktivitas sektor jasa, serta dampak kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, dan bencana alam lainnya.
Josua mencatat, sepanjang September 2026 terdapat 333 kejadian bencana, yang sebagian besar berupa kebakaran hutan dan lahan.
Dampak bencana tersebut terutama dirasakan pada produksi pertanian dan perkebunan, aktivitas pertambangan di wilayah tertentu, distribusi barang, transportasi, hingga perdagangan masyarakat di daerah terdampak.
Baca Juga: Anggaran Subsidi Energi Naik demi Jaga Daya Beli, Kemenkeu Pastikan Defisit Terjaga
Produksi padi pada September 2026 juga tercatat turun sekitar 18,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, penurunan tersebut tidak seluruhnya disebabkan oleh bencana, melainkan turut dipengaruhi faktor musim dan pola panen.
Tekanan terhadap konsumsi masyarakat juga tercermin dari pertumbuhan penjualan eceran yang masih terbatas di kisaran 1,3% yoy - 1,4% yoy pada Agustus-September 2026. Sementara itu, indeks kondisi ekonomi saat ini melemah dari 109,4 menjadi 107,5.
"Kondisi ini memperlihatkan bahwa konsumsi masyarakat masih tumbuh, tetapi pemulihannya belum merata, terutama bagi rumah tangga berpendapatan menengah ke bawah yang menghadapi tekanan harga pangan dan biaya hidup," ungkapnya.
Meski begitu, Josua memperkirakan dampak bencana terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional masih relatif terbatas. Pasalnya, aktivitas manufaktur, konstruksi, dan investasi di sejumlah wilayah masih berjalan.
Namun, pemerintah menurutnya tetap perlu mewaspadai dampak lanjutan bencana terhadap produksi pangan, pendapatan masyarakat daerah, dan biaya distribusi apabila gangguan cuaca serta infrastruktur berlangsung berkepanjangan.
Karena itu, ia mendorong pemerintah mempercepat pemulihan infrastruktur terdampak, menjaga kelancaran distribusi pangan, serta mengarahkan belanja dan bantuan secara lebih tepat sasaran untuk melindungi daya beli masyarakat.
"Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di kisaran 5,2% yoy menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia, tetapi belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan yang merata," kata Josua.
Menurutnya, tantangan utama pemerintah ke depan bukan hanya mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5% yoy, tetapi juga memastikan investasi dan aktivitas industri mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan riil, serta memperkuat konsumsi masyarakat secara berkelanjutan.
Baca Juga: Tambahan Subsidi Energi Jadi Rp 500 Triliun Bisa Tahan Inflasi, Tapi Ada Risikonya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
