kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Belanja Negara Rp 809 Triliun di Kuartal I-2026, Mampukah Dongkrak Pertumbuhan 6%?


Jumat, 13 Februari 2026 / 17:59 WIB
Belanja Negara Rp 809 Triliun di Kuartal I-2026, Mampukah Dongkrak Pertumbuhan 6%?
ILUSTRASI. Belanja Negara Sampai Akhir November 2025 Mencapai Rp 2.911,8 Triliun, Terserap 82,5% dari Outlook L (KONTAN/Nurtiandriyani)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Rencana belanja negara kuartal I-2026 yang disebut akan menembus Rp 809 triliun atau naik 23% dibandingkan periode sebelumnya dinilai berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan dengan kucuran belanja tersebut, pertumbuhan ekonomi para kuartal I-2026 bisa berada pada kisaran 5,5% hingga 6%.

Namun, sejumlah ekonom berbeda pandangan terkait hal tersebut. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky,  menilai lonjakan pertumbuhan hingga 6% sulit tercapai hanya dengan mengandalkan belanja atau insentif fiskal semata.

Baca Juga: Prabowo Bakal Bebaskan Kampung Nelayan Merah Putih Lakukan Ekspor Mandiri

"Saya rasa tidak bisa. Saat ini kondisi produktivitas kita sedang lemah. Kucuran insentif tentu akan berdampak positif, tapi tidak akan meloncatkan pertumbuhan kita dari 5,39% ke tiba-tiba 6%," ujar Riefky kepada Kontan, Jumat (13/2).

Menurut dia, untuk mencapai lonjakan pertumbuhan setinggi itu diperlukan reformasi struktural yang lebih mendasar, bukan sekadar dorongan belanja jangka pendek.

"Untuk loncatan setinggi ini perlu muncul dari reformasi struktural, bukan dari insentif semata," katanya.

Pandangan berbeda disampaikan Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman. 

Ia melihat peluang pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 cukup tinggi, terutama karena faktor musiman dan efek basis rendah.

"Sebenarnya ada peluang yang cukup tinggi untuk ekonomi Indonesia tumbuh tinggi di kuartal I-2026. Selain karena ada tambahan dari menguatnya demand secara musiman pada masa Ramadan dan libur Lebaran, terdapat peluang dari low base effect tahun lalu pada kuartal I-2025 yang mana ekonomi tumbuh di bawah 5%," jelasnya.

Baca Juga: Prabowo: Banyak Anggaran Dana Desa yang Tak Sampai ke Rakyat Selama 10 Tahun Terakhir

Faisal menekankan, stimulus pemerintah perlu difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi agar permintaan domestik meningkat. "Jadi fokusnya adalah kebijakan yang memperkuat sisi permintaan," imbuh Faisal.

Menurutnya, jika sisi permintaan menguat, maka dampaknya akan menjalar ke sisi produksi. Produsen akan terdorong meningkatkan output seiring naiknya permintaan, sehingga efek penggandanya (multiplier effect) menjadi lebih besar.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perbaikan iklim usaha dan investasi juga tetap penting agar kepercayaan konsumen dan pelaku bisnis sama-sama meningkat.

"Tentunya memang kondisi usaha dan investasi juga perlu untuk selalu diimprove agar confidence konsumen dan bisnis sama-sama menguat,” tutur Faisal.

Selanjutnya: Begini Cara Mendorong Perempuan Muda Berani Masuk Dunia Teknologi

Menarik Dibaca: Begini Cara Mendorong Perempuan Muda Berani Masuk Dunia Teknologi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×