kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.541.000   10.000   0,40%
  • USD/IDR 18.174   21,00   0,12%
  • IDX 4.902   -195,30   -3,83%
  • KOMPAS100 629   -28,32   -4,31%
  • LQ45 497   -21,10   -4,07%
  • ISSI 164   -6,42   -3,77%
  • IDX30 280   -11,60   -3,98%
  • IDXHIDIV20 377   -14,79   -3,78%
  • IDX80 73   -3,21   -4,23%
  • IDXV30 105   -3,90   -3,58%
  • IDXQ30 94   -3,73   -3,83%

Begini Pemerintah Redam Harga Cabai yang Melambung di Sejumlah Daerah


Selasa, 03 November 2026 / 14:08 WIB
Begini Pemerintah Redam Harga Cabai yang Melambung di Sejumlah Daerah
ILUSTRASI. Harga Cabai (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan pemerintah mengandalkan distribusi antar daerah untuk meredam kenaikan harga cabai yang terjadi di sejumlah wilayah. 

Strategi ini ditempuh dengan mengirimkan pasokan dari daerah yang mengalami surplus ke daerah yang mengalami kekurangan.

Budi mengatakan, kenaikan harga cabai belakangan ini dipengaruhi oleh faktor cuaca yang berdampak terhadap penurunan produksi. 

Meski demikian, pasokan cabai di sejumlah daerah masih mencukupi sehingga pemerintah berupaya memperlancar distribusinya.

Baca Juga: Pemerintah Matangkan Sistem Jelang Implementasi Ekspor Satu Pintu DSI di Awal 2027

Salah satu langkah yang telah dilakukan yakni mengirimkan sebanyak 7 ton cabai dari Jawa Timur ke Halmahera. 

Pengiriman tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bank Indonesia (BI), serta pemerintah daerah.

"Kemarin kita mengirim ke Halmahera ya, kan kita mengirim 7 ton dari Jawa Timur, karena Jawa Timur surplus cabai," ujar Budi kepada awak media di Kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (3/11).

Menurutnya, pemerintah juga belum memutuskan pemberian subsidi untuk mengatasi kenaikan harga cabai. 

Saat ini, fokus penanganan masih diarahkan pada pemerataan pasokan melalui pengiriman komoditas dari wilayah surplus ke daerah yang membutuhkan.

"Belum dihitung dan diputuskan. Tapi yang jelas kalau sekarang kan sebenarnya komoditas yang lain, kebutuhan pokok kan relatif stabil," katanya.

Budi menambahkan, pemerintah akan terus memetakan daerah yang memiliki kelebihan pasokan cabai dan wilayah yang mengalami kekurangan. Dengan demikian, distribusi dapat diarahkan ke daerah yang mengalami kenaikan harga.

Dalam waktu dekat, pemerintah juga berencana menerapkan pola distribusi serupa untuk komoditas pangan lainnya, termasuk telur, guna menjaga stabilitas harga antardaerah.

"Sehingga kita akan kirim ke daerah-daerah yang harganya lebih tinggi sehingga harga menjadi stabil. Kalau harga stabil, harga sesuai acuan, maka peternak juga bisa terus jalan," pungkas Budi.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatatkan inflasi tahunan Indonesia pada Oktober 2026 sebesar 3,23% year on year (yoy). 

Angka ini sedikit melandai dibandingkan inflasi September 2026 yang sebesar 3,28% yoy.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono dalam laporannya, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya, inflasi Oktober 2026 masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 2,86% yoy.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi utamanya didorong oleh kelompok kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,82% yoy, dengan andil inflasi tertinggi sebesar 1,40% yoy. 

"Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin dan daging sapi," tutur Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/11).

 Selanjutnya, kelompok transportasi mencatatkan inflasi sebesar 4,87% yoy, dengan andil inflasi 0,59% yoy. Inflasi pada kelompok ini utamanya didorong oleh bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, dan pemeliharaan servis, serta mobil. 

Terakhir sumbangan terbesar inflasi adalah oleh  kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,52% yoy, dengan andil inflasi 0,32% yoy. Inflasi pada kelompok ini utamanya didorong oleh komoditas emas perhiasan.

Baca Juga: Update Kasus Karhutla: Berkas Perkara Masuk Tahap I, Laporan dan Tersangka Bertambah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×